Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

[Cerita Mini : Kunang-kunang itu Harapan]

Cahaya pendar kunang-kunang masih bertahan di tengah merambatnya malam. Angin juga malu-malu menyapa dengan aura dinginnya. Kulirik laki-laki di sebelahku. Alih-alih ingin mengajaknya masuk ke dalam rumah, namun melihatnya masih dengan kepala menunduk, kuurungkan niat itu. "Rencana mereka belum terjadi, kan, gimana kalo kita nyoba buat nyegah?" "Udah nggak bisa dicegah, Ay."⁣ "Tapi mere ¾ " "Setiap orang punya hak buat ambil keputusan termasuk Mama. Mama pengen keluar dari hubungan yang udah nggak bikin dia nyaman. Perselingkuhan Papa juga nggak bisa dibenarkan." Aku terdiam, membenarkan perkataannya. “Kamu lihat kunang-kunang itu, Ay.” Aku mendongak ke arah sekumpulan kunang-kunang. “Jika diibaratkan gelap adalah hubungan Mama sama Papa, maka kunang-kunang itu adalah sedikit harapan bagi salah satu di antara mereka. Bisa jadi, kunang-kunang itu adalah harapan yang selama ini ingin Mama wujudkan. Bisa jadi juga kunang-kunang itu adala...

[Puisi : Sejenak Bahagia, Bertahan dalam Perjuangan]

Aku, kepada aku Penggemar bahagia tapi penikmat sedih yang tidak jemu Penikmat larik sendu dalam buku-buku Pegawai seorang mencari ilmu Mendesak rindu pada dia yang sudah lalu Berharap sedikit namun banyak menghalu   Besok, kamu tidak tahu Luka mana yang akan tersapu Diam membisu lantas gagu Tak mampu lagi membujuk ragu Menambah ketidakpercayaan diri yang padahal mampu   Pelan – pelanlah, Meski terkadang kamu berkata “Ya sudahlah, lebih baik menyerah” Jangan berhenti mengucap hamdalah Atas berkat dari Lillah Hingga kamu sampai pada hari penuh berkah Janganlah enggan mengakui, bahwa kamu tercipta untuk menjadi pahlawan dalam sebuah kisah Bertahanlah, hingga kamu mampu membuat sejarah yang tidak lagi mendengungkan kata menyerah Semangatlah, hingga esok kamu sampai di persinggahan yang megah

[Cerita Pendek : Kisah Terbenamnya Matahari di Ujung Hari]

Temanku bilang, namaku indah. Padahal, namaku yang asli, Matahari Bumi. Bukan indah, seperti yang dia katakan. Aku kesal kepadanya karena suka mengganti namaku semaunya.   Percuma juga jika aku mengajaknya berdebat. Hasilnya akan tetap sama. Kita sama-sama tidak mau mengalah. Temanku bilang, aku suka hujan. Itu baru benar. Tapi, aku tidak suka hujan kali ini. Aku tidak bisa keluar kamar karena dikurung sama Ibu. Sedangkan, temanku seenaknya menggodaku untuk keluar kamar. Mengajakku menikmati rintikan hujan yang mengenai lembut rambut kepala. Hingga menyapa tanaman bunga di taman dan bercengkerama ria menggunjingkan dunia. Temanku bilang, keluar saja lewat jendela. Tapi, aku sungguh tidak bisa. Ibu berpesan jangan keluar kamar kalau tidak mau sakit demam. Aku tidak suka kalau aku sedang sakit. Kalau aku sakit, Ibu jadi lebih sering marah karena katanya aku merepotkan. Kugelengkan kepala sebagai jawaban dari permintaannya. Kuharap temanku mengerti kalau aku sungguh tidak bisa kel...

[Cerita Mini : Tidak Sempat dan Selesai]

Sore itu, aku membuat janji dengan seseorang. Aku datang lebih awal agar tidak mengecewakannya. Karena bukan apa-apa, dari beberapa janji yang kubuat dengannya, aku sendiri pula yang mengingkarinya. Sebagai manusia yang berperasaan, aku jadi merasa tidak enak. Sembari menunggu, aku memandangi buku bercover jingga dengan judul  Sayup-sayup Suara Risau  karya penulis terkenal. Bukan karena permintaannya, tetapi ini adalah inisiatifku sendiri. Aku hanya ingin memberitahunya bahwa kisah dalam buku ini sama persis dengan kisah aku dengannya. Terpisah oleh semesta namun bisa kembali bertemu di suatu masa. “Barda!” Aku pun menoleh ke sumber suara. Ah, rupanya yang kutunggu sudah datang. “Sudah lama ya nunggunya? Atau kamu lagi rindu seseorang? Kalau rindu jangan banyak mikir, ucapin saja sama orangnya. Terus kasih hadiah agar saat berpisah lagi, ia bisa mengobati rindunya dengan hadiah itu. Jadi, apakah kamu sedang rindu seseorang?” cerocosnya tiada henti. Iya, aku rindu padamu. Liha...