[Cerita Mini : Kunang-kunang itu Harapan]
Cahaya pendar
kunang-kunang masih bertahan di tengah merambatnya malam. Angin juga malu-malu
menyapa dengan aura dinginnya. Kulirik laki-laki di sebelahku. Alih-alih ingin
mengajaknya masuk ke dalam rumah, namun melihatnya masih dengan kepala menunduk,
kuurungkan niat itu.
"Rencana mereka
belum terjadi, kan, gimana kalo kita nyoba buat nyegah?"
"Udah nggak bisa
dicegah, Ay."
"Tapi mere¾"
"Setiap orang
punya hak buat ambil keputusan termasuk Mama. Mama pengen keluar dari hubungan
yang udah nggak bikin dia nyaman. Perselingkuhan Papa juga nggak bisa
dibenarkan."
Aku terdiam,
membenarkan perkataannya.
“Kamu lihat kunang-kunang
itu, Ay.” Aku mendongak ke arah sekumpulan kunang-kunang. “Jika diibaratkan
gelap adalah hubungan Mama sama Papa, maka kunang-kunang itu adalah sedikit
harapan bagi salah satu di antara mereka. Bisa jadi, kunang-kunang itu adalah
harapan yang selama ini ingin Mama wujudkan. Bisa jadi juga kunang-kunang itu
adalah jawaban yang ingin sekali Papa utarakan pada Mama untuk berpisah. Karena
pada dasarnya cahaya dalam kegelapan mutlak memberikan kebahagiaan.”
Benarkah
demikian?
Sungguh, mencerna
kata-katanya saat ini terlalu sulit dilakukan.
“Nggak apa, ya, kalo
Mama sama Papa pisah …”
Aku tercekat. Kulihat ke
arah matanya untuk mencari sebuah keraguan. Sial! Keraguan itu tidak tampak
sama sekali di sana.
Komentar
Posting Komentar