[Cerita Pendek : Kisah Terbenamnya Matahari di Ujung Hari]
Temanku bilang, namaku indah.
Padahal, namaku yang asli, Matahari Bumi. Bukan indah, seperti yang dia
katakan. Aku kesal kepadanya karena suka mengganti namaku semaunya. Percuma juga jika aku mengajaknya berdebat.
Hasilnya akan tetap sama. Kita sama-sama tidak mau mengalah.
Temanku bilang, aku suka hujan. Itu
baru benar. Tapi, aku tidak suka hujan kali ini. Aku tidak bisa keluar kamar
karena dikurung sama Ibu. Sedangkan, temanku seenaknya menggodaku untuk keluar
kamar. Mengajakku menikmati rintikan hujan yang mengenai lembut rambut kepala.
Hingga menyapa tanaman bunga di taman dan bercengkerama ria menggunjingkan
dunia.
Temanku bilang, keluar saja lewat
jendela. Tapi, aku sungguh tidak bisa. Ibu berpesan jangan keluar kamar kalau
tidak mau sakit demam. Aku tidak suka kalau aku sedang sakit. Kalau aku sakit,
Ibu jadi lebih sering marah karena katanya aku merepotkan. Kugelengkan kepala
sebagai jawaban dari permintaannya. Kuharap temanku mengerti kalau aku sungguh
tidak bisa keluar menikmati hujan kali ini.
Kualihkan pandanganku dari tatapan
temanku. Jika terlalu lama menatapnya, bisa-bisa aku nekat keluar kamar dari
jendela. Sungguh, ia bisa mengendalikan diriku dengan begitu baik. Dia bisa memprovokasi
kepalaku hanya dengan tatapan. Dia juga bisa membuatku senang hanya dengan
senyuman. Malahan, dia bisa membuatku marah dan seketika redam hanya dengan
perlakuan.
Sebelum kejadian Ibu mengurungku di
kamar, aku ingat kalau Ayah pulang setelah beberapa minggu menjelajahi kota.
Aku sangat rindu kepadanya. Tapi, tahukah apa yang terjadi? Ayah tidak disambut
dengan semringah oleh Ibu. Malahan sebuah pertengkaran menjadi rutinitas yang
tidak bisa dilewatkan setiap kali Ayah pulang. Aku sedih mengatakan hal ini.
Aku merasa tidak mengerti dengan keadaan keluargaku saat ini.
Saat orang terkasih yang kusebut
Ayah telah pulang, harusnya ada sebuah perayaan. Banyak sajian di meja makan.
Kursi duduk penuh dengan orang-orang. Wajah Ayah berseri dan bergairah. Ibu
memakai pakaian apik dengan polesan yang menarik. Kakak perempuanku tersenyum
mengatakan Ayah semakin sehat dan Ibu semakin akrab. Kakak laki-lakiku
bersemangat menceritakan kelulusannya tahun ini. Dan aku? Aku tidak perlu
bermuluk-muluk. Yang terpenting, aku baik dan tidak demam.
Faktanya, Ayah pergi lagi dari
rumah. Ah, lebih tepatnya, Ayah diusir dari rumah. Karena sebelum Ibu pergi dan
mengurungku di kamar, aku melihat bagaimana Ibu melakukan drama pelemparan
bungkusan plastik yang berisi pakaian Ayah. Sungguh drama yang memilukan. Lebih
memilukan lagi, aku hanya bisa mematung melihat Ayah memunguti pakaiannya
sendiri dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Aku melihat kepergian Ayah lagi
yang kesekian kali. Aku sesak dan menangis. Apa yang membuat Ibu membiarkan
Ayah pergi lagi? Tidakkah ia tahu bahwa Matahari juga merindukan Ayah? Kenapa
juga Ibu mengurungku di kamar? Apakah agar aku tidak mencegah Ayah untuk pergi?
Semua pertanyaan itu membuatku pusing. Seandainya saja aku bisa keluar dari
kamar, menikmati hujan bersama temanku, aku yakin merasa lebih baik.
***
“Kamu beruntung ya, Ri. Keluargamu bahagia
sekali, “ kata temanku waktu itu.
Sebenarnya, dalam ingatanku yang
menyenangkan, keluargaku adalah keluarga yang penuh bahagia. Keluarga yang aku
miliki empat tahun lalu, sebelum usiaku enam belas tahun. Setiap Ayah pulang,
makan malam selalu diadakan. Ibu juga selalu bersemangat ketika mendongengkan
sebuah kisah. Kakak perempuanku juga aktif berlatih menyanyi demi menekuni
sebuah hobi agar menjadi pundi-pundi. Kakak laki-lakiku sibuk membuat miniatur
gedung tinggi seperti di pusat kota. Benar-benar sebuah keluarga yang bahagia,
kan?
Sekarang, rumah yang kutinggali
hanya ada aku dan Ibu. Tidak ada lagi Ayah. Tidak ada lagi kakak perempuan dan
kakak laki-lakiku. Hampa pun mulai terasa hingga merajai suasana rumah. Aku sendiri
merasa asing sekalipun itu di dalam kamarku.
Adalah pertengkaran yang membuat
semua ini menjadi belati. Sebelum kakak perempuanku pergi, ia juga terlibat
pertengkaran dengan Ayah dan Ibu. Kudengar samar-samar tentang di luar nikah,
anak, dan seorang pria. Entahlah. Aku pusing memikirkannya. Pertengkaran itu
begitu hebat hingga Ayah berani melayangkan tangannya. Ibu marah kepada kakak
perempuanku, tetapi Ibu juga kesal pada Ayah. Ibu berkata, “Tidak perlu pakai
kekerasan untuk memarahi anak gadis. Tidakkah sebuah kata-kata lebih mengena
daripada sebuah laku yag membuang banyak tenaga!? Dasar laki-laki bodoh! Begitu
saja pakai main tangan segala!”
Hati siapakah yang tidak ngilu
ketika mendengar kata-kata seperti itu?
Aku meyakini, ada bagian dalam hati
Ayah dan kakak perempuanku yang tersayat begitu kuat.
***
Hujan semakin lebat. Aku masih
berada di kamarku sedang menatap keluar jendela. Temanku tak lagi di luar
kamar, tetapi ia sedang berada di sampingku. Entah sejak kapan dia ada di sana.
Rasa-rasanya, dia memang sedikit aneh. Bisa tiba-tiba datang, bisa tiba-tiba
pergi. Namun yang membuatku nyaman berteman dengannya, ia selalu datang tepat
waktu ketika aku membutuhkannya.
Ibu belum kembali setelah
pertengkaran itu. Aku sedikit mencemaskannya. Takutnya terjadi hal-hal yang
tidak kuingini. Temanku tahu aku cemas, makanya dia datang ke kamar untuk
menenangkanku.
Bicara soal temanku, dia seorang
laki-laki. Tidak mirip seperti kakak laki-lakiku. Hanya saja, aku lebih suka
temanku daripada kakak laki-lakiku. Sedari pertengkaran yang melibatkan kakak
perempuanku, kakak laki-lakiku tak lagi hangat seperti dulu. Ia lebih banyak
murung karena mungkin memikirkan sesuatu. Kutanya kenapa, ia jawab tidak apa.
Tapi tak berselang lama, ia juga terlibat pertengkaran dengan Ayah dan Ibu.
Dampaknya, ia pergi dari rumah. Kudengar samar-samar, ia tersiksa dan sengsara
hidup dalam keluarga penuh kemunafikan. Ah, pikiranku semakin rumit. Aku tidak
suka akan hal itu.
***
Sejenak kupejamkan mata untuk
sekadar menenangkan jiwa. Untung saja, temanku masih ada di sampingku.
Tersenyum tulus. Membuatku lega meski hanya diam membisu.
Menurutku sendiri, temanku itu aneh
walau kadang juga menyebalkan. Ia suka tiba-tiba datang bermalam di kamarku.
Padahal, sudah kuperintahkan keluar jangan tidur bersamaan. Seperti yang
kudengar dari mulutnya, ia hanya seorang diri di dunia ini. Orang tuanya entah
di mana. Alhasil ia pun terbiasa sendiri sejak kecil.
Semenjak kakak perempuan dan kakak
laki-lakiku pergi, aku pun kesepian. Namun sejak datangnya temanku ini, aku
kembali bahagia. Ia sering main ke rumah, mengajakku bermain bersama, makan
sepiring berdua, bermain hujan berdua. Segalanya, hanya ingin dilakukan berdua
juga bersama.
Saat aku ke sekolah dia juga ikut
denganku. Padahal, dia tidak satu sekolah denganku. Meski kadang keras kepala,
tapi ia tetap menghiburku ketika aku kesepian. Ketika temanku mengejekku, ia
tetap setia menemaniku.
Tak ada lagi teman akrab selain dirinya.
Malahan beberapa dulu yang pernah dekat, kini menjauhiku. Kata mereka, aku itu aneh.
Suka bicara sendiri. Padahal, jelas-jelas aku bicara dengan temanku. Dasar
merekanya saja yang aneh. Apa mereka tidak melihat bagaimana wujud dari teman
baikku itu? Ya sudahlah, tidak apa-apa. Malahan aku lebih suka jika temanku dia
saja. Dunia terasa lebih bisa kunikmati daripada terus kuratapi.
Sayangnya, Ayah tidak suka jika aku
berteman dengannya. Pernah di suatu waktu, saat aku dan temanku bermain
kegirangan sembari tertawa bersama, Ayah pulang dengan penuh amarah. Ayah
bilang aku gila karena aku suka bicara sendiri. Ayah dengar kabar itu dari
mulut tetangga. Ibu berkata, “Anakku tidak gila. Malahan kamu yang gila karena
sering minum-minuman.”
Entahlah. Terkadang Ibu seperti
membelaku. Tapi terkadang pula, ia tidak menyukai diriku. Seperti saat ini,
tiba-tiba mengurungku di kamar tanpa sebab yang kuketahui.
***
Satu jam telah berlalu. Hujan di
luar masih begitu lebat. Tanpa sadar aku
terlelap dan begitu bangun, kulihat Ibuku ada di depan rumah. Temanku masih ada
di sampingku. Menatapku penuh cemas. Entah apa yang ia cemaskan.
Pintu kamar tidak lagi terkunci.
Aku pun berlari kegirangan ingin memeluk Ibu sembari meminta izin bermain hujan
bersama temanku. Saat kupanggil Ibu, dia hanya diam tak bersuara. Terlihat
cucuran air mata mengalir di pipinya.
Semuanya terasa aneh. Aku tak bisa
mengusap air mata di pipi Ibu. Aku tak bisa memeluk tubuh Ibu. Bahkan aku pun
tak bisa menggapai tangannya. Kutatap temanku yang saat itu berada di
sampingku. Berusaha bertanya meminta penjelasan darinya. Tatapannya begitu
sedih hingga aku pun terbawa kesedihannya. Lantas ia mendekat dan memelukku.
Aku terdiam kaku melihat rumahku
yang tak lagi berbentuk. Ia tertimbun tanah yang telah gugur dari atas
perbukitan.
Sesaat, kudengar suara Ibu yang
berteriak meronta-ronta memanggil namaku. “Di mana anakku? Di mana Matahari
Bumi kesayanganku? Di mana kamu, Nak?”
Ibu tak lagi bisa kugapai. Ia terus
menjauh dari penglihatanku. Hingga kurasa tubuhku tak lagi berasa. Hanya
temanku yang berada di sampingku. Ia menggenggam tanganku dan mengajakku pergi
tanpa berjanji untuk kembali.
Komentar
Posting Komentar