Postingan

[Puisi : Bernama]

Pernahkah kamu bertanya di mana rindu yang pernah membual? Pernahkah kamu bertanya di mana temu yang pernah bertikai? Pernahkah juga kamu bertanya di mana khawatir pernah tercipta?   Banyak gejolak yang berasal dari sana Diikuti cemas dan tennag yang tidak seirama Dituntut ego untuk memiliki dirinya Sadarlah sendiri Museum hati ini hanya diisi oleh serangkaian tidak pasti

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]

Mengerjakan tugas yang didesak  deadline  memang sedikit merepotkan. Yang sebenarnya pula, aku juga tidak bermalas-malasan untuk mengerjakannya. Hanya saja, aku tidak bisa meng- handle  semua pekerjaan dengan  deadline  yang bersamaan. Untungnya, seminggu terakhir di bulan Februari ini, pemasukanku cukup membuat dompet tebal. Agak sedikit, sih. Tetapi, lumayanlah kalau sekadar mengajak lima kawan nongkrong di CafĂ© Society depan kantor. Ibaratnya, hitung-hitung dapat lemburan menyenangkan hati kawan. Selepas istirahat sore, pukul enam lewat tiga puluh menit aku kembali ke ruang kerjaku. Tempatku membantai habis naskah kiriman penulis pemula. Yah, sebagai seorang editor terkadang aku berpikir ingin menyerah. Adalah dampak dari Lomba Menulis dalam rangka Peringatan Ulang Tahun Penerbit membuatku menjadi lembur. Tetapi, bagaimanapun juga, itu adalah bagian dari tanggung jawabku. Bukan lagi sebagai resiko karena pekerjaan yang telah aku geluti selama tiga tahun ini...

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

Kursi roda ini berhenti tepat di taman bunga. Semerbak wangi menelisik indra penciumanku, memberi sedikit kesejukan di sela-sela bau obat-obatan. Entah bagaimana caranya, cowok berambut gondrong itu merayu dokter Rhea agar mengizinkanku keluar dari ruangan. Kursi roda ini berhenti tepat di taman bunga. Semerbak wangi menelisik indra penciumanku, memberi sedikit kesejukan di sela-sela bau obat-obatan. "Udah, nggak perlu dipikirin. Izin kamu ini izin remsi, kok. Percayalah." ⁣ Aku melengkungkan senyum, berharap memberinya jaminan bahwa aku baik-baik saja, tidak khawatir dengan izin resmi dari dokter Rhea. ⁣ Sebuket bunga mawar dia letakkan di pangkuanku. Warnanya merah pekat, aku suka meski sedikit memberiku rasa cemas. Cowok bernama Randu itu, kini sudah ada di hadapanku. Menyejajarkan posisinya dengan berjongkok. "Bunganya harum," ucapku. "Ya pasti, kalo nggak harum berarti nggak pake parfum," kekeh Randu. ⁣ "Haha .... " tawaku sumb...

[Puisi : Laksana]

Laksana bagaskara yang rela menyinari buminya Engkau datang membawa ceria di setiap masaku   Laksana awan yang menemani bagaskara Engkau datang melengkapi hariku   Tuan, pertahankan kenyamanan Kugantungkan harapan Mengukir banyak kenangan

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

  “Aku lelah kalau terus berada di bawah kemampuanmu. Sekali-kali, bisakah kamu mengambil jeda untuk tidak selalu berada di atas? Di sini, ada aku yang siap terbang mengepakkan sayapnya.” ***             Seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia posting, gadis itu pun kembali mengecek instagramnya dan membaca kalimat terakhir yang tertera di sana.   @not_Twins : Terima kasih yang setulus-tulusnya, untuk para TwinLov yang sudah mendukung kami hingga hari ini. Kami harap jeda ini hanya sebentar, so , nantikan kehadiran kami kembali, ya. Best love ever, Not Twins   Dalam waktu lima menit, postingan itu sudah dibanjiri berbagai komentar, seperti “Mengapa Not Twins mengambil jeda? Apakah karena ada masalah internal antara Melodi dan Nada?” Sontak saja, komentar itu membuat Melodi kesal. Bisakah mereka hanya berkomentar saja tanpa perlu sok tahu? Misalnya, cukup berkomentar, “Take a enjo...

[Cerita Mini : Sudahkah Cukup?]

"Udah, Ta?" Gadis itu hanya diam. Mungkin, emosinya sudah meluruh. "Lepasin, Ta. Gue lebih milih lo mencak-mencak gini ketimbang lo mendam semuanya sendirian." "Van, lo ngga usah hubungan sama Eca lagi, ya. Dia tuh mau ngerebut lo dari gue. Ini udah yang ke berapa coba ..." Giovan hanya menghela napas, menanggapi. "Eca tuh nggak akan berubah. Lo harus jauhin dia, Van. Ini demi kebaikan lo." "Demi kebaikan gue, Ta?" Reyta mengernyit, tidak paham dengan apa yang dibicarakan Giovan. "Lo masih ragu sama hubungan kita, Ta. Mau seberapa kerasnya gue meyakinkan lo, lo tetap nggak mau kasih kesempatan buat ngerelain masa lalu.” "Gue kasih kesempatan itu, Van, tapi lo nggak—" "Nggak apa, Ta?! Gue udah izin ke lo, malam itu mau jemput Eca karena ban motornya bocor dan posisi sendirian. Wajar kalo dia minta tolong ke gue. Orangtua Eca juga udah nitipin dia ke gue. Gue nggak nganggep dia lebih selain sebagai ...

[Puisi : Hampa yang Tersisa]

Dulu perasaan ini begitu menggebu Tak kenal apakah dibalas olehmu Tak kenal apakah akan diusik kalbumu Tak kenal apakah akan bertahan selalu   Dulu perasaan ini begitu memburu Tak kenal disadarkan oleh nyata yang tersaji oleh waktu Tak kenal dengan perkataan orang tentangmu Tak kenal apakah aku akan bahagia karenamu   Lambat nan laun, waktu dan waktu Terus memburu haluku Menyadarkanku akan hampaku Memberiku pengertian bahwa kamu bukan untukku Mendesakku tuk mengucap pisah padamu   Sungguh, perasaan itu pernah menggebu meski nyata menampar begitu syahdu Hanya hampa tersendiri yang ada dalam kalbu Tak pernah disentuh riang, hanya palsu yang bertingkah tak menentu Aku telah hampa karena memberi rasa padamu