[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

Kursi roda ini berhenti tepat di taman bunga. Semerbak wangi menelisik indra penciumanku, memberi sedikit kesejukan di sela-sela bau obat-obatan.

Entah bagaimana caranya, cowok berambut gondrong itu merayu dokter Rhea agar mengizinkanku keluar dari ruangan.

Kursi roda ini berhenti tepat di taman bunga. Semerbak wangi menelisik indra penciumanku, memberi sedikit kesejukan di sela-sela bau obat-obatan.

"Udah, nggak perlu dipikirin. Izin kamu ini izin remsi, kok. Percayalah."

Aku melengkungkan senyum, berharap memberinya jaminan bahwa aku baik-baik saja, tidak khawatir dengan izin resmi dari dokter Rhea.

Sebuket bunga mawar dia letakkan di pangkuanku. Warnanya merah pekat, aku suka meski sedikit memberiku rasa cemas.

Cowok bernama Randu itu, kini sudah ada di hadapanku. Menyejajarkan posisinya dengan berjongkok.

"Bunganya harum," ucapku.

"Ya pasti, kalo nggak harum berarti nggak pake parfum," kekeh Randu.

"Haha .... " tawaku sumbang.

"Kamu nggak capek ya sakit terus?"

"Kenapa, Ran? Udah lelah mupuk harapan, ya," ucapku dengan sedikit menyunggingkan senyum.

Aku menghela napas sebentar dan mengembuskannya dengan berat. Kuraih tangan Randu dan menggenggamnya.

"Orang sakit itu punya dua sisi, Ran. Sisi yang pertama, kita sering bertanya-tanya, apakah sakit adalah jalan terakhir yang akan aku lalui? Apakah sakit adalah perantara paling baik untuk mengembuskan napas terakhir? Sedangkan, sisi yang kedua, ketika orang yang sayang sama kita datang merangkul, selalu ada harapan bahwa aku bisa hidup lebih lama lagi dengan mereka. Aku tidak perlu cemas lagi dengan hari esokku. Karena esok adalah hari di mana aku sembuh dan lepas dari semua gemelut ini. Aku juga sudah tidak lagi menghitung jam agar tahu kapan aku minum obat."

Randu hanya terus memandangku semakin intens.

"Sejatinya, setiap orang tidak ingin jadi beban orang lain. Beberapa orang juga harusnya tetap memberikan motivasi pada kita sebagai orang sakit. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih sama kamu Ran. Karena kamu termasuk dengan beberapa orang itu. Makasih Ran udah buat aku yakin kalo aku punya harapan untuk sembuh. Aku menyayangimu."

"As your wish, Keani."

Terima kasih Randu, pelukmu ini adalah pengantar paling nyaman menuju sebuah keabadian.


Komentar

  1. Banyak typonya ini, dan menurut ku, masih kosong,, dan membosankan. Hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]