[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

 “Aku lelah kalau terus berada di bawah kemampuanmu.

Sekali-kali, bisakah kamu mengambil jeda untuk tidak selalu berada di atas?

Di sini, ada aku yang siap terbang mengepakkan sayapnya.”

***

            Seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia posting, gadis itu pun kembali mengecek instagramnya dan membaca kalimat terakhir yang tertera di sana.

 

@not_Twins : Terima kasih yang setulus-tulusnya, untuk para TwinLov yang sudah mendukung kami hingga hari ini. Kami harap jeda ini hanya sebentar, so, nantikan kehadiran kami kembali, ya.

Best love ever,

Not Twins

 

Dalam waktu lima menit, postingan itu sudah dibanjiri berbagai komentar, seperti “Mengapa Not Twins mengambil jeda? Apakah karena ada masalah internal antara Melodi dan Nada?” Sontak saja, komentar itu membuat Melodi kesal. Bisakah mereka hanya berkomentar saja tanpa perlu sok tahu? Misalnya, cukup berkomentar, “Take a enjoying time, Not Twins. We waiting your comeback. Luv ya.” Bukankah komentar seperti itu lebih menyenagkan hati?

“Ah, sudahlah,” pasrah Melodi yang akhirnya lebih memilih mematikan ponselnya karena khawatir akan menemui komentar yang serupa.

***

Pagi ini, Melodi sudah ada janji untuk menemani Nada ke Taman Kota. Alih-alih untuk membuang kekesalannya yang sering memenuhi hati, juga untuk menenangkan diri dengan saling bercerita. Keputusan mereka untuk mengambil jeda, tidak lain adalah karena sebuah komentar “menyakitkan” yang mereka temukan di kanal Youtube mereka. Seseorang yang berkomentar itu mengatakan bahwa ia lebih suka suara Melodi daripada suara Nada. Bahkan, seseorang itu bilang, tanpa Nada pun, Melodi bisa meng-cover lagunya sendiri. Karena ada atau tidaknya keberadaan Nada, tidak akan berpengaruh pada Melodi. Sontak saja, hal itu membuat Nada sakit hati, bahkan bukan hanya sekali dua kali ia mendapati komentar yang serupa. Hingga akhirnya, Nada meminta persetujuan Melodi untuk mengambil jeda sebentar dari aktivitas meng-cover lagu. Melodi pun menyetujuinya, karena jika posisinya dibalik, Melodi juga melakukan hal yang sama.

***

Saat tiba di Taman Kota, wajah semringah Nada terpancar dengan indahnya. Hal itu membuat Melodi bertanya-tanya, tentang adakah gerangan yang membuatnya bahagia?  Nada pun bercerita bahwa semalam ia mendapat tawaran dari Allegra alias Raga, seorang youtuber yang sedang naik daun saat itu, mengajak mereka untuk kolaborasi. Pantas saja jika Nada sangat bersemangat ketika memberitahukan kabar itu pada Melodi.

“Gimana kalau kita terima tawarannya? Kan jarang-jarang, loh, kita dapat tawaran ini, apalagi dari penyanyi terkenal yang lagi naik-naiknya,” bujuk Nada.

“Tapi, kan, kita baru aja memutuskan buat jeda, masa kita nerima tawaran itu?” ujar Melodi mengungkapkan alasan.

“Iya, kalo masalah itu, kan, bisa kita bicarain sama mereka. Sekalipun mau dipublikasikan dalam waktu cepat, itu artinya jeda kita juga berakhir, kan?” ujar Nada dengan bersikukuh.

“Kita juga baru pertama kali menerima tawaran itu, masa sudah minta macam-macam sama mereka?” jawab Melodi seolah tidak yakin.

“Masalah itu, serahin aja sama aku. Dijamin beres, kok,” ujar Nada meyakinkan.

“Tapi, Nad, kita aja belum sehari jeda, masa kita membatalkannya? Terus kalau ternyata, hasilnya mau dipublikasikan dalam waktu cepat, masa kita tiba-tiba muncul dengan lagu baru. Apa kata penggemar kita? Mereka bisa aja berpikir, kan, kalo jeda yang kita umumkan itu cuma buat main-main,” jelas Melodi. “Lagian kalo memang dia mau ngajak kita buat kolaborasi, dan kita bilang kalo kita lagi jeda, kayaknya dia juga bakal ngertiin, kok. Pokoknya, untuk saat ini, aku nggak setuju ya buat nerima tawaran itu. Kita enggak bisa melanggar apa yang sudah kita atur, kan?” tambah Melodi mengingatkan.

Nada sudah tidak berkomentar lagi soal itu. Melodi memang keras kepala, kalau sekali tidak setuju, butuh alasan ratusan kali untuk membuatnya setuju.

***

Untuk menghilangkan rasa kesalnya pada sikap nada, Melodi, memilih mampir ke toko kaset untuk membeli karya penyanyi favoritnya, Sheila On 7. Di toko itu, masih tersedia kaset analog dan digital yang bisa dipilih sesuai selera. Karena radio tape-nya lama tidak digunakan, Melodi pun membeli kaset analog dari sana.

Ketika Melodi ingin mengambil kaset yang ingin dibelinya, ternyata kaset itu ada di rak yang paling atas. Melodi pun berusaha mengambilnya dengan menapakkan salah satu kakinya ke salah satu rak yang paling bawah dan kaki lainnya berada di rak yang lebih atas dari sebelumnya. Persis, seperti seorang Spiderman yang sedang merayap di tembok. Bedanya, Melodi merayap di rak yang penuh kaset. Perlahan, tangannya meraih kaset itu dan entah karena kehilangan keseimbangan, tiba-tiba saja Melodi oleng dan jatuh bersamaan dengan rak kasetnya.

 “Arghh!” teriak Melodi.

Melodi yang tertimpa rak berusaha untuk mendorong rak itu agar kembali berdiri. Namun, karena rak itu cukup berat, Melodi tidak mampu mendorongnya. Seseorang yang sebelumnya ada di rak sebelah dan menyadari sebuah insiden itu, akhirnya membantu Melodi untuk keluar dari rak yang menimpanya. Seketika itu juga pandangan Melodi berserobok dengan orang itu.  Kenapa matanya begitu teduh hingga membuatku ingin menatapnya lebih lama? batin Melodi.

Melodi pun tersadarkan dari lamunan saat orang itu melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Kamu baik-baik aja?” tanya seseorang itu.

“Ehm, i-iya, aku baik-baik aja, kok, “ jawab Melodi gugup. “Ma-makasih ya, Kak, atas bantuannya,” tambahnya.  

“Iya, sama-sama. Btw, suka beli kaset radio juga?” tanya seseorang itu karena melihat tangan Melodi yang memegang kaset bergambarkan Duta dan teman-temannya.

“I-iya.”

“Suka Sheila On 7 juga?” tanyanya lagi.

“I-iya,”

“Enggak usah, gugup gitu. Oh iya, namaku, Allegra Wibisana. Panggil aja, Raga,” ujar Raga sembari mengulurkan tangan mengajak Melodi berkenalan.

Melodi pun hanya menatap Raga dalam diam. Tuhan, bagaimana bisa aku bertemu dengannya? Bukankah dia adalah Raga yang dimaksud oleh Nada? Mengapa rasanya aku mengkhianati Nada? Padahal, dia yang bersikukuh untuk menyetujui tawaran itu, kenapa malah aku yang bertemu dengannya? Apakah semesta sedang mengajakku bermain saat aku ingin mengambil jeda?

***

Nada begitu semangat hari ini. Bagaimana tidak semangat, karena hari ini dia kembali mengadakan rekaman bersama Raga. Karena Melodi tidak mau, Nada pun menyetujuinya sendiri. Siapa tahu, dengan melakukan kolab dengan penyanyi terkenal, ia bisa mendobrak namanya sendiri. Nada ingin membuktikan bahwa ia juga punya kemampuannya sendiri. Ia bahkan yakin, bisa lebih unggul dari Melodi.

Sembari menunggu kedatangan Raga, Nada yang sedang berdiri di depan studio kembali mengecek bingkisan yang ia bawa sebagai ucapan terima kasih kepada Raga.

“Nada … “ panggil seseorang.

Nada pun menoleh saat suara itu menyapa telinganya. Betapa terkejutnya ia … saat melihat Melodi datang bersama dengan Raga.

Kaget dengan kedatangan mereka, bingkisan yang dibawa oleh Nada pun jatuh. Kenapa mereka datang bersama? Kenapa Raga juga merangkul Melodi? Ada apa sama mereka? batin Nada. Menyadari bingkisannya jatuh, Nada pun segera mengambilnya. Melodi yang tidak ingin tinggal diam juga berniat ikut membantu.

“Enggak usah bantuin, Mel! Aku bisa sendiri!” bentak Nada.

Melodi pun hanya mematung melihat Nada membereskannya sendiri.

Ada apa dengan Nada? Kenapa dia terlihat marah sekali? tanya Melodi dalam hati.

Nada pun segera berlalu dari sana dan pergi begitu saja.

“Nad, kamu mau ke mana?!” teriak Melodi. Namun yang dipanggilnya tidak menghiraukan panggilanya. Raga pun menghampiri Melodi.

“Ga, Nada ada keperluan apa ke sini?”

“Aku rasa, kamu tahu deh jawabannya.”

“Rekaman bareng kamu?”

 Raga mengangguk. “Kamu nggak suka yah Mel kalo Nada kolab sendirian bareng aku? Jujur saja, aku lebih prefer buat kolab sama kamu ketimbang sama Nada. Karena kemam-“

“Cukup. Ga. Jangan diterusin lagi. Aku tahu sekarang, kalau semua orang di dunia ini cuma menganggap orang itu ada jika kemampuannya juga diakui. Mulai hari ini, kita jangan ketemuan dulu, ya.” Melodi pun berlalu, tetapi dicegah oleh Raga.  

“Aku tahu, aku salah, Mel. Seharusnya aku emang nggak ngajak kalian buat kolab saat kalian sendiri ingin mengambil jeda. Aku juga nggak seharusnya menyetujui keinginan Nada buat kolab bareng aku sendirian. Maafin aku, ya, Mel ….”

Melodi pun menatap Raga dalam diam. Ada sorot penyesalan juga kekecewaan yang terpancar di sana. “Ini semua bukan salah kamu,kok. Karena saat kamu udah jujur, kamu udah bebas dari rasa bersalah,” ucap Melodi.

***

Sejak hari itu, Melodi dan Nada tidak pernah bertemu lagi. Mereka berpisah dalam jeda yang menyimpan tanya dan salah paham. Melodi juga merasa bersalah karena sikapnya yang egois dan terlalu memikirkan apa kata orang. Padahal, Nada juga ingin membuktikan pada orang lain bahwa sekalipun Nada tidak bersamanya, ia punya kemampuan. Kata yang diucapkan Nada saat pertengkarannya yang dulu, juga kembali menyadarkan Melodi kalau ia terlalu sering terbang tinggi. “Mel, aku lelah kalau terus berada di bawah kemampuanmu. Sekali-kali, bisakah kamu mengambil jeda untuk tidak selalu berada di atas? Di sini, ada aku yang siap terbang mengepakkan sayapnya.”

Kanal Youtube, Not Twins, juga sudah tidak aktif lagi. Jeda yang mereka harapkan bisa diakhiri, justru malah berubah menjadi jeda selamanya. Kini, untuk mengisi hari-harinya yang sepi, Melodi menjadi seorang pengisi musik di sebuah cafe dekat pantai setiap Sabtu malam.

Malam ini, tepat dua bulan lalu dari terakhir kalinya ia bertemu Nada. Kenangan bersamanya selalu ingin ia kenang, tetapi mengapa begitu menyakitkan jika diputar dalam ingatan?

“Untuk mengisi malam ini, ditemani ombak yang berkejaran dan angin sepoi yang menyejukkan, aku ingin menyanyikan sebuah lagu tentang persahabatan. Lebih tepatnya, tentang persahabatan yang telah lama diberi jeda untuk istirahat justru malah istirahat untuk selamanya. Untuk sahabatku, Nada Pranucitra, di manapun kamu berada, kudoakan sehat selalu dan semoga ada itikad untuk kita bertemu. Persahabatan kita masih punya peluang untuk disambung, kan?” Melodi pun mulai memetik gitarnya dan menyanyikan liriknya.

Perlukah jarak yang berkata?

Di antara sibuknya kita

Perlukah jarak yang memisahkan kita?

Di antara kasih yang kita punya

Terpuruk dalam paham dan tanya

Kita berpisah … karena tidak setia


Komentar

  1. Aku suka yang ini, emosinya dapet,, dan ini bisa loh di kembangin ke novel. Ceritanya bisa di panjangin. Bagus bagus,, keren ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]