[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]

Mengerjakan tugas yang didesak deadline memang sedikit merepotkan. Yang sebenarnya pula, aku juga tidak bermalas-malasan untuk mengerjakannya. Hanya saja, aku tidak bisa meng-handle semua pekerjaan dengan deadline yang bersamaan.

Untungnya, seminggu terakhir di bulan Februari ini, pemasukanku cukup membuat dompet tebal. Agak sedikit, sih. Tetapi, lumayanlah kalau sekadar mengajak lima kawan nongkrong di Café Society depan kantor. Ibaratnya, hitung-hitung dapat lemburan menyenangkan hati kawan.

Selepas istirahat sore, pukul enam lewat tiga puluh menit aku kembali ke ruang kerjaku. Tempatku membantai habis naskah kiriman penulis pemula. Yah, sebagai seorang editor terkadang aku berpikir ingin menyerah. Adalah dampak dari Lomba Menulis dalam rangka Peringatan Ulang Tahun Penerbit membuatku menjadi lembur. Tetapi, bagaimanapun juga, itu adalah bagian dari tanggung jawabku. Bukan lagi sebagai resiko karena pekerjaan yang telah aku geluti selama tiga tahun ini.

Hanya saja, ada hal lain yang membuatku terus berpikir. Terus membuatku bertanya-tanya dan ingin tahu jawabnya. Ialah sebuah surat yang terus datang di waktu dan jam yang sama. Sampul dengan warna biru yang sama, tidak lupa pula angka berurutan di pojok kanan atas. Terakhir, di pojok kiri bawah tertulis sebuah notes, “Bacalah surat ini setelah angka tujuh, ya. Karena dengan begitu lengkaplah sudah bagian dari surat ini. Terima kasih. “

Dan, ya. Hanya itu saja keterangannya. Tidak ada keterangan siapa pengirimnya apalagi alamatnya. Ketika surat itu diberikan padaku oleh Pak Ujang, sempat kutanyakan padanya siapa yang mengirim. Lagi-lagi, jawabannya sama; Pak Ujang tidak tahu. Yang beliau tahu, hanyalah selepas beliau berpatroli keliling kantor sore hari, sebuah surat itu sudah tergeletak di meja kantor satpam. Beralamatkan kantor Wika Publisher dengan nama penerima; Elang Dewangga.

Sebuah kejadian yang terus berulang. Hingga enam hari berturut-turut. Jika surat itu baru bisa kubaca setelah sampai surat yang berangka tujuh, berarti sore ini, surat itu harusnya sudah datang.

 

Tok tok tok

“Permisi, Mas Elang!”

Aku menebak, dialah Pak Ujang, si pengantar surat misterius.

“Silakan masuk, Pak. Pasti mau nganter surat, kan?”

“Engg… Iya Mas. Ada surat lagi buat Mas Elang.” Ucap beliau sembari memberikan suratnya padaku.

“Oke, Pak. Saya terima suratnya, ya.”

“Iya Mas. Saya permisi dulu.”

“Silakan, Pak.”

Benar saja. setelah kuterima surat terakhir itu, notes-nya berubah. Tidak lagi sama dengan notes yang berada di enam surat sebelumnya.

“Baca sekarang, ya. Mulai dari surat ke tujuh sampai surat yang pertama. Aku sudah berusaha keras membuatnya dan telah berkorban banyak untk bisa sampai mengirimkannya padamu. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah memberiku kesempatan ini. Lewat surat ini, janji-janji yang pernah terucap akan terungkap. Jalan takdirnya akan terlihat, akankah ia sempat diwujudkan ataukah akan diabaikan bahkan dilupakan oleh si pemberi janji?

Kepada Elang Dewangga, selamat membaca kisah-kisah lalu meski telah berlalu. Semoga kamu tak sengaja melupa akan sebuah perjanjian hingga membuatku terjebak dalam sebuah penantian.

Dengan penuh rasa, Elma Divyanka Sasmita.”

Pikiranku terus berkelana, berusaha mengingat sosok Elma di dalam ingatanku. Namun, karena tak kunjung menggapai ingatan itu, aku pun meraih enam surat lainnya dan mulai membacanya.

 

Surat Pertama : Perihal Aku

Teruntuk Elang Dewangga,

Pemilik dua mata tajam yang meneduhkan.

                Perkenalkan, namaku Elma Divyanka Sasmita. Dulu kamu sering memanggilku Diva, karena katanya aku lahir sebagai wanita yang memiliki aura kepercayaan diri yang pasti, jiwa petualang yang indah, dan mampu membuatmu terpesona.  Masih ingatkah kamu akan hal itu?


Bahkan meski sudah kubaca surat pertama darinya, ingatanku tak kunjung menemukannya. Kulanjutkan membaca surat yang kedua.


Surat Kedua : Temu Tak Disangka

Teruntuk Elang Dewangga,

Pemilik kehangatan pemberi perhatian.

                Bagaimana?  Sudah mulai mengingatku belum? Pertemuan pertama kita adalah saat kita berada dalam ruang yang sama, penuh dengan buku dan aku sedang hadir dalam acara launching sebuah buku. Jika aku sebutkan, hari itu tepat tanggal 10 Agustus 2016. Kita pernah beradu pandang, hingga akhirnya kamu memberanikan diri untuk menyapa. Memberikan alamat temu di sebuah Café Society depan kantor Wika Publisher. Seperti itulah ingatanku. Apakah kamu mengingatnya?


Perlahan sudah kucoba mengingatnya, perlahan pula ingatan itu muncul. Dia adalah mantan tunanganku. Seseorang yang pernah kuberi janji. Seseorang yang pernah saling membersamai.

 

Surat ke Tiga : Mengungkit Janji

Teruntuk Elang Dewangga,

Pemilik harapanku namun jua yang kulepaskan.

Kita pernah mengikat janji. Di Taman Asri di bumi ini. Kamu memasangkan cincin yang waktu itu melingkar di jari manisku sebagai bukti dari cintamu. Namun, aku sungguh minta maaf karena pergi waktu dulu. Aku tak kuasa untuk menolak kehendak Ibu. Beliau menginginkanku pulang tanpa bawa calon pemilik hati. Beliau sakit-sakitan hingga aku harus mengorbankan diri.

Surat ketiga membuatku hatiku mencelos. Perlahan, rasa sakit membayangi diriku lagi.  Mengingat sakitnya di waktu dulu. Pernah membuat janji bersama tapi akhirnya ingkar janji juga.

 

Surat ke Empat : Penjelasan Hati

Teruntuk Elang Dewangga,

Yang Ingin aku perjuangkan lagi, namun tidak bisa lagi.

Takdir membawa rencana yang tidak diduga. Bahkan setelah lama aku bernegosiasi, Ibuku mengizinkanku memperjuangkanmu. Aku kembali memupuk harapanku padamu. Berniat menjemputmu untuk datang ke rumahku. Namun sesampainya aku di sana, Elang telah pergi dengan bunga yang lain. Ia telah berpindah ke lain rumah. Memang menyakitkan, tapi sebuah janji yang dulu pernah terucap olehku dan olehnya sudah tak berlaku lagi. Aku termakan janji kosong kita yang katanya akan selalu bersama apa pun rintangannya. Aku merasa telah diberi harapan yang sepertinya mustahil untuk diwujudkan. Aku terombang-ambing. Memilih terus atau putus.


Andai kamu tahu Elma, aku juga tersakiti waktu itu. Namun dirimu yang tak lagi ada kabar, aku pun menyetujui permintaan orang tuaku. Sama seperti dirimu, aku pun tak sanggup menolak.

 

Surat ke Lima : Kenangan Sebentar

Teruntuk Elang Dewangga,

Si pemberi kenangan.

Hai, Elang. Aku kirimkan beberapa foto saat kita pernah bersama. Tetapi jika kamu tidak menginginkannya kamu bisa membuangnya entah ke mana. Tetapi, yang pasti aku akan menyimpanmu apik di dalam kenanganku.

Kuambil beberapa foto yang Elma kirimkan bersamaan dengan surat itu. Foto di depan Café Society selepas aku melamarnya. Senyumannya begitu tulus dan juga menyejukkan.

 

Surat ke Enam : Sebuah Keputusan

Teruntuk Elang Dewangga,

Yang akan perlahan kulepaskan.

Elang, aku minta maaf ya, untuk beberapa kesalahan yang telah lalu. Aku tak pernah tenang jika mengingat janji yang pernah kuucapkan waktu dulu. Aku telah mengingkari semua janji itu. Aku pun tak berniat lagi ‘tuk membuat janji. Aku pergi. Aku tak ingin menganggumu lagi dengan mengirim surat seperti ini lagi. Aku pamit ya. aku akan mencoba hidup lagi.

 

Aku juga ingin melupakan janji yang telah kuingkari padamu. Meski awalnya aku tak ingat, tetapi kamu mengingatkanku lewat surat ini. Bayang kesalahan juga selalu menghantuiku.

 

Surat Ke Tujuh  : Apabila Kamu Menyetujui.

Teruntuk Elang Dewangga,

Elma ingin bertemu.

Bercanda, kok. Tapi, aku sudah melihatmu tadi sore di Café Society. Kamu masih seperti dulu ya. Setia dengan Americano dan Curros Cokelat. Aku juga pesan menu yang sama. Mungkin menu kesukaanmu juga akan menjadi menu kesukaanku. Boleh, kan?

 

Tadi sore? Aku bertemu Elma? Di Café Society? Benarkah? Haruskah aku keluar dan menemuinya? Barangkali dia masih di sana?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]