[Cerita Pendek : Namanya Dionysus]
“Katanya,
arti namanya adalah dewa pesta. Tapi, ia sama sekali tidak suka.
Bahkan
untuk mengerti apa itu definisi ‘pesta’ saja, dia tidak tahu.
Tidak
tahu dan tidak mau tahu”
***
Nama lengkapnya Dionysus Dante.
Sukanya dipanggil Dion tapi paling benci dipanggil Dante. Katanya, nama Dante
itu terbilang aneh dan tidak enak didengar telinga. Padahal, bagiku, nama Dante
adalah nama paling unik yang pernah aku temui.
Hari ini tanggal dua puluh enam
bulan kesebelas, dia mengulang tahun. Beberapa kejutan sudah aku persiapkan. Seperti
dekorasi di tempat pesta, kado yang yang berbeda dari tahun sebelumnya, kartu
ucapan yang penuh diksi berirama, meski dengan menu makanan yang masih sama.
Tidak apa masih sama. Daripada berbeda, tapi dia marah tiada reda, jadi bahaya.
Pukul tiga sore sudah terlewat
lima belas menit. Area D’Garden Cafe terpantau tidak terlalu ramai. Hanya ada
beberapa pasangan yang saling bersua, juga beberapa keluarga yang sedang
bercengkerama. Di dalam ruangan berkaca di sudut terakhir cafe, sepertinya
sedang ada rapat orang-orang berdasi. Ah, tidak aku pedulikan. Yang aku
pedulikan, kenapa gawaiku tidak segera bergetar? Ke mana si Dion itu? Tidak
seperti biasanya dia terlambat. Mana pesanku tidak segera dicentang biru,
jangan-jangan ditenggelamkan begitu saja. Baiklah, aku beri toleransi lima
belas menit lagi.
Aku pun beranjak dari duduk dan
memilih untuk berkunjung ke area bunga tulip, yang berada tepat di seberang
tempat dudukku. Warnanya tidak terlalu banyak. Hanya ada warna ungu, kuning dan
putih. Kulirik gawaiku untuk melihat waktu, ternyata baru lewat enam menit dari
pemberian toleransiku pada Dion. Bersabarlah,
Alini. Dion pasti sebentar lagi akan datang. Oh, tidak begitu. Sebaiknya beri
kabar saja dulu, kalau dia hendak ke mari, ucapku menenangkan hati sembari
menepuk-nepuk dada untuk mengatur napas.
Sebenarnya, aku tidak tahu,
apakah hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan untuk Dion atau tidak.
Pasalnya, sejauh yang aku kenali dari dirinya, Dion adalah orang yang tertutup.
Bahkan setelah lima tahun kita berpasangan, masih ada banyak hal yang belum
kuketahui tentangnya. Aku sendiri bukan tipekal orang yang mendesak seseorang
untuk bercerita semua hal. Jadi, jika Dion memilih memendamnya sendiri, aku tidak
akan memaksanya untuk bercerita. Selalu ada ketika dia sedang berada di ambang
bawah saja, itu sudah lebih dari cukup. Sedikit mengharukan, bukan?
Namun, di antaranya banyaknya
insan yang singgah, hanya dia sendiri yang bersedia menetap dan bertahan denganku.
Tidak ada yang spesial yang bisa aku katakan tentangnya. Karena dia lebih
banyak menyebalkannya. Hanya satu yang tidak bisa aku palsukan, pelukannya
selalu membuatku tenang berkepanjangan. Sungguh, aku tidak bohong. Aku juga
tidak sedang membual. Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku saja tidak ingin
memalsukan?
Kulirik lagi gawaiku, sudah lima belas menit berlalu. Ada apa dengannya? Tidakkah dia ingat dengan janji yang sudah dibuat? Aku mendengus kesal, mengentakkan kaki dengan sengaja dan memilih untuk duduk kembali. Kulihat pesan di aplikasi hijau pun, masih tercentang dua. Tambahlah sudah kekesalanku. Awas saja kalau dia sudah datang, akan ku..........
Drrtt
Ah,
selamatlah kau Dion. Akhirnya telepon juga.
“Di mana sih, kok, belum datang
juga. Ke mana dulu emangnya? Udah tiga puluh menit berlalu, loh. Kamu juga
nggak pernah terlambat gini. Coba kamu mau alasan apa?” omelku tanpa jeda.
“Halo, Mbak ….”
Aku pun mengernyitkan dahi,
begitu mendengar suara laki-laki yang kuyakini bukanlah suara Dion.
“Halo, Mbak … halo… Maaf ini saya sudah lancang membuka hpnya.
Tapi saya cuma mau mengabarkan, kalau pemilik hp ini baru saja mengalami
kecelakaan. Saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Utama Dewata.
Segera menyusul ya, Mbak.”
Ini hanya mimpi, kan? Dion
tidak mungkin kecelakaan, kan? Bisa saja, orang tadi salah memberi kabar. Aku
pun mengecek kembali, layar gawaiku yang menampilkan nama Dion dengan akhiran emoji hati ungu. Aku mencoba mencubit
pipiku, tapi terasa sakit. Aku coba mencubit pahaku, ternyata sakit. Sungguh,
mengapa hari ini berubah menjadi tidak menyenangka. Apakah Dion sedang membuat
kejutan?
***
“Lini,
aku sudah di depan. Buruan keluar. Aku tidak mau terlambat ke acaranya.”
Itu adalah pesan suara dari
Dion yang kuterima sepuluh menit yang lalu. Aku pun buru-buru ke depan agar ia
tidak merajuk.
“Iya, ini aku udah di depan,
kan,” ucapku dengan cengengesan. Dion hanya melirik sebagai tanggapannya. Ah, sudah biasa.
“Ya, udah, yuk otw,” ajakku
sambil menggandeng tangan Dion.
Di perjalanan, Dion masih diam.
Yah, memang tipekalnya dia begitu. Bicara hanya seperlunya saja. Aku pun
sengaja memutar musik untuk menghidupkan suasana. Kuisi dengan nyanyianku yang
mungkin tidak terlalu enak untuk didengar telinga. Tapi, aku tidak peduli.
“Lini, bisa diam tidak? Aku sedang
konsentrasi menyetir ini,”ucap Dion, akhirnya buka suara.
Aku tetap berusara, menyanyi
keras-keras, dan tidak menghiraukan larangannya.
“Lini, kamu dengar tidak?”
serunya lagi.
Astaga,
Dion lagi PMS, ya. Kok sensi banget. Aku mendengus kesal.
“Iya iya, aku dengar. Ya udah,
aku diem aja, nih.”
“Lini, bukan begitu maksudku.
Aku sedang konsentrasi menyetir, kamu tidak mau ada hal yang tidak diinginkan
terjadi, kan?” sahut Dion.
“Saat aku lagi bicara,
setidaknya kamu dengarkan dulu dengan baik. Bukan malah tambah menjadi-jadi.
Semakin tidak dihiraukan, padahal hal itu juga penting,” lanjutnya sembari
fokus ke jalanan. “Ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Sudah dari lama, tapi
aku baru berani mengatakannya. Aku pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan
saat dalam perjalanan. Saat itu, keluargaku akan pergi ke resto untuk melakukan
pesta ulang tahunku. Resto itu namanya D’Flower. Karena mereka tahu jika aku
suka bunga tulip. Mereka tidak melarangku, meski aku laki-laki penyuka bunga.
Mereka juga tidak keberatan, jika aku yang memilih sendiri di mana aku ingin
merayakan pesta,” ucap Dion. Aku pun mulai fokus mendengarkannya.
“Namun, siapa yang tahu bahwa
kebahagiaan segera berlalu. Sebuah truk yang melaju kencang dari arah
berlawanan ternyata oleng dan menabrak mobil keluargaku. Kejamnya lagi, hanya
aku sendiri yang masih selamat. Aku sendiri yang masih menyimpan memori tentang
perjalanan itu. Lima tahun berlalu, kurasa dapat dengan mudah kuterima.
Nyatanya, tidak seperti itu. Semuanya sulit.”
“Lantas, apa hubungannya?”
tanyaku antusias. Siapa tahu dengan ini dia akan mengatakan kenapa ia sangat
tidak menyukai sebuah pesta. “Dulu kakakku melakukan hal yang sama denganmu.
Bernyanyi keras-keras dan setelahnya tergeletak di jalanan sana. Aku melihatnya
sendiri dan aku tidak mau kamu mengalaminya. Sejak saat itu pula, aku merasa
bersalah dengan kejadian itu. Andai saja, aku tidak meminta mereka untuk datang
ke resto demi pesta ulang tahunku, kejadian itu tidak akan terjadi. Keluargaku
masih utuh hingga kini. “
“Kenapa kamu merasa seperti
itu? Tidak seharusnya kamu juga menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian di
luar kendalimu.”
“Mungkin seharusnya aku memang
seperti itu, Lini. Tapi, semuanya tidaklah mudah seperti yang ada dalam
bayanganku. Penerimaan selalu membutuhkan proses. Suatu saat, kamu pasti akan
berusaha utuk menerima sesuatu hal yang di luar dari kendalimu. Jika saat itu
aku tidak ada di sampingmu, tetaplah berusaha. Karena itulah satu-satunya cara.
“
***
Percakapan waktu itu adalah
kenyataan yang akhirnya harus aku lalui. Dion telah pergi dan aku harus
berusaha menerimanya. Kejadian waktu itu sama persis dengan saat ini. Dion
dalam perjalanan dan sedang menuju sebuah pesta. Fakta yang mengejutkan pun
kuketahui setelah mendapat kabar kematian Dion, dua belas jam yang lalu.
D’Garden adalah cafe yang dulunya bernama D’Flower. Cafe dengan area bunga
tulip berwarna putih ¾bunga kesukaan Dion. Aku
tidak berjanji akan menerima dengan mudah, tapi Dion akan menjadi alasanku utnuk
berusaha menerimanya.
“Dion, aku akan tetap menyukai pesta, meski kamu masih tidak suka. Aku akan tetap mengenangmu meski dengan harus bergulat kembali dengan peristiwa yang tidak menyenangkan.”
Komentar
Posting Komentar