[Cerita Pendek : Titik Kecil Pudar]
Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apa pun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap.
– Carl Sagan –
***
Kasus penganiayaan yang
dilakukan oleh Kepala SMA Nasa 34, Demian Alex, telah menyeruak di berbagai
media. Pasalnya, kasus itu menjadi bumerang dan pencoreng nama baik sekolah
tersebut. Sungguh disayangkan, demi menjatuhkan image sekolah tersebut, para pesaingnya menggunakan cara tidak etik
dengan melebih-lebihkan berita yang belum tentu benar mengenai SMA Nasa 34. Biarlah
uang yang berbicara. Sekali ucap, semuanya akan siap seketika.
Tiga bulan setelah itu, kasus baru
pun muncul dari tempat yang sama. Kepala Tata Usaha, Levinka Andriyana,
diisukan menggelapkan dana operasional dari pemerintah dan menggunakannya untuk
kepentingan pribadi. Data-data valid berupa laporan keuangan pun telah
diteliti. Hasilnya pun menyatakan jika Levinka Andriyana benar menggelapkan
dana operasional tersebut.
SMA Nasa 34 adalah semesta bagi
para siswanya menimba ilmu, semesta bagi para guru memeberikan ilmu serta
mencari rezeki. Akankah SMA Nasa 34 akan hancur karena pemberitaan yang memberatkan
mereka?
***
Suara riuh dari arah ruang
kelas MIPA 1 seketika redam saat Bu Monica, guru yang mengajar Fisika masuk ke
dalam kelas. Tidak ada lagi tukang gosip bergerombol di sudut kelas seperti
sebelumnya. Tidak ada lagi para cowok beradu games terbaru yang sedang viral di sekolahnya. Tim Antariksa yang
bertugas presentasi hari ini pun sudah siap di depan kelas. Tidak ada yang
berani berulah saat kelas Bu Monica berlangsung.
“Silakan kalian mulai
presentasinya. Jangan sampai melebihi satu jam pelajaran kalau kalian tidak mau
mendapat tugas tambahan.” Titah Bu Monica setelah duduk di kursi belakang
kelas, bersiap menilai presentasi hari ini.
“Siap, Bu.” Jawab Rigel
Kentaurus, Ketua Tim Antariksa dengan tegas.
Bersama empat kawannya, Leo, Aurora,
Lyra dan Aldebaran, Rigel siap mempresentasikan tugasnya kali ini. Mereka pun
menundukkan kepala sebentar, ritual khusus Tim Antariksa sebelum presentasi dimulai.
Terlihat tidak biasa, tapi kata Bu Monica itu hak mereka.
“Baik. Selamat pagi teman-teman
Angkasawan, kami dari Tim Antariksa akan mempresentasikan tentang rumah yang
kita sebut sebagai bumi. Tempat di mana kita lahir, tumbuh dan berkembang.
Tempat di mana kita menimba ilmu dan mengukir berbagai prestasi. Sebelum itu,
izinkanlah saya dan teman-teman untuk memperkenalkan diri. Di mulai dari saya
sebgai Ketua Tim Antariksa, Rigel Kentaurus. Kemudian, ada si pembuat animasi,
Aldebaran Cassanova.” Rigel pun mempersilakan Aldebaran untuk maju.
“Halo Teman Angkasawan, semoga kalian
menikmati presentasi kami hari ini.” Begitulah Aldebaran, suka yang singkat,
padat dan jelas.
“Kemudian, ada penganalisis
materi yang pertama, Aurora Bintang Purnama.” Lanjut Rigel memperkenalkan
anggota timnya yang lain.
“Halo Teman Angkasawan, Aurora harap materi
yang akan kami bawakan bisa memotivasi kalian untuk lebih menjaga bumi kita,
ya.” Perkenalannya diakhiri senyuman manis Aurora yang notabene adalah primadona kelas MIPA.
“Kemudian, ada penganalisis
materi yang kedua, Lyra Belinda Canopus.” Ucap Rigel selanjutnya.
“Halo Teman Angkasawan, materi kali ini sangat
menarik. Aku sangat senang saat mengumpulkan berbagai materinya waktu itu. Kuharap
kalian juga akan senang saat menyimak presentasi dari kami.” Lyra adalah tipe gadis
yang periang, maka tak heran jika perkenalannya diakhiri dengan aura semangat
yang terpancar dari dirinya.
“Terakhir, ada perlengkapan
teknis dan bahan presentasi, Leo Bagaskara Pallas.” Ucap Rigel lagi.
“Halo Teman Angkasawan, sebenarnya butuh
banyak persiapan untuk presentasi kali ini, tapi kami berusaha mempersiapkan
semuanya semaksimal mungkin. Semoga kalian menikmati pertunjukkan dari kami
tentang bumi yang kita cintai.” Leo memberikan senyuman tulusnya diakhir
perkenalannya.
***
LCD proyektor pun dinyalakan,
pertanda presentasi akan segera dimulai.
“Teman Angkasawan, lihatlah
foto gelap dengan tiga sinar vertikal di layar itu. Apakah teman-teman melihat
ada setitik kecil pudar di dalam fotonya? Jika kalian belum menemukannya, mari
kita perjelas lagi,” Ucap Rigel membuka presentasi pagi itu.
Sedangkan Leo yang bertugas
menjadi operator slide presentasi, mulai
membesarkan foto yang ada di layar LCD agar setitik kecil pudar dalam foto
gelap itu bisa terlihat oleh teman-temannya.
Rigel pun kembali menjelaskan
foto gelap tersebut, “Jika kalian berhasil menemukannya, itulah bumi kita. Tempat tinggal
kita. Foto ini adalah foto planet Bumi
dari jarak kurang lebih 6 miliar kilometer. Foto yang diambil tahun 1990 ini
dipotret oleh pesawat antariksa Voyager I atas perintah dari pusat aktivitas NASA
di Houston, Texas. Perintah tersebut adalah permintaan dari mendiang Carl
Sagan, salah satu astronom terkemuka sekaligus. kolega dari Stephen Hawking.”
Kali ini, giliran Aurora yang
menjelaskan presentasinya. “Foto planet Bumi hampir tidak terlihat karena
ukurannya begitu kecil. Dari sudut pandang alam semesta, bumi itu tidak ada
spesialnya. Ia hanyalah setitik debu pudar yang melayang bersama penghuni
semesta lainnya. Tapi bagi kita, bumi adalah rumah kita satu-satunya. Ia sangat
berharga, karena di sanalah kita lahir, tumbuh dan berkembang. Tempat di mana
kita membuat memori cinta, saling mengasihi orang terkasih, pernah saling
bertengkar tapi seharusnya lantas berdamai.”
“Sejauh ini pun, bumi hanyalah satu-satunya
planet yang diketahui sebagai tempat kehidupan. Jika bukan kita yang
mnejaganya, lantas siapa lagi? Akankah kita akan membiarkan bumi hancur begitu
saja? Akankah kita rela jika berbagai memori indah yang kita ukir, tertelan
sejarah yang nestapa? Bumi sudah tua, yang bisa kapan saja menyerah dan hancur
karena ulah kita. Bumi saja sudah tidak ada spesialnya di mata alam semesta,
lalu jika kita tidak menanggapnya spesial, siapa lagi yang akan menyanjungnya?”
Tambah Aurora.
***
Slide
presentasi kemudian berpindah dari yang sebelumnya foto gelap berpindah menjadi
foto tentang kerusakan-kerusakan bumi karena ulah manusia yang tidak
bertanggung jawab.
“Foto-foto itu adalah perbuatan
manusia tidak bertanggung jawab. Mereka melakukannya di luar sana dengan begitu
naïf. Bahkan sebenarnya, kita tidak perlu jauh-jauh menilik perbuatan mereka di
luar sana, lihatlah saja sekolah kita. Tempat kita menimba ilmu. Sudahkah kita
menjaga sekolah kita dengan tidak membuang sampah sembarangan? Sudahkah kita
menjaga tanaman bunga dan beberapa pohon di taman sekolah kita? Jika kita mulai
dari sekarang dengan menjaganya, kita sudah ikut andil menjaga bumi kita.“
Jelas Lyra menambahkan.
“Kita pun sebagai generasi
berilmu pengetahuan, mulailah dari sekarang untuk menghilangkan sifat ingin
menguasai seluruh dunia dengan keserakahan. Tidak perlu jauh-jauh menilik sikap
dan pemerintahan para pemimpin negara, tapi lihatlah di kelas kita. Apakah
persaingan prestasi di kelas kita sudah bersaing sehat? Apakah kita benar-benar
jujur dalam mengerjakan tugas? Apakah kita sudah berani mengakui bahwa ada yang
lebih hebat dari diri kita yang sekarang?” Aldebaran pun ikut menimpali.
“Sifat kesombongan dan keserakahan
manusia tidak berarti apa-apa bagi bumi kita. Yang ada hanya akan menjadi
pemicu hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti pertengkaran sesama manusia
karena ingin mendapat pengakuan terhebatnya hingga eksploitasi sumber daya yang berlebihan untuk
kepentingan yang disalahgunakan. Padahal di atas langit masih ada langit. Di
atas yang pintar masih ada yang lebih pintar. Di atas yang kaya masih ada yang
kaya.” Giliran Rigel yang berbicara.
“Carl Sagan, seorang astronom
terkemuka pernah berkata, Sikap kita,
keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di
alam semesta ini, tidak berarti apa pun di hadapan setitik cahaya redup ini.
Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap.
Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa
pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri
kita sendiri. bukankah jelas, jika kesombongan kita sebagai manusia
tidaklah mendatangkan hal yang luar biasa?” Imbuh Aurora.
“Üsia bumi kurang lebih sudah
4,5 miliar tahun dan selama itu bumi telah mengalami berbagai peradaban. Pada
zaman kita, di mana teknologi semakin berkembang pesat, gunakanlah dengan
seelok mungkin. Tidak perlu kita gunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Mulai
dari sekarang, kita bisa mencoba untuk bersikap jujur pada setiap kesalahan
atau pun dalam kita menyampaikan informasi, kita bisa menolong bumi kita dengan
tidak membuang sampah sembarangan dan melakukan penghijauan.” Leo pun yang
tadinya sibuk mengatur slide
presentasi, ikut andil memberikan materi.
Presentasi selesai, sesi
pertanyaan pun dibuka. Adalah Felicya Arnoldi, gadis yang meraih peringkat
pertama semester lalu, pertama kali mengacungkan tangan bermaksud memberikan
pertanyaan.
“Kepada Felicya, silakan
bertanya.” Rigel pun memberi kesempatan pada Felicya untuk bertanya.
“Apakah presentasi kalian ini suatu saat akan berguna bagi kami? Padahal, ketua timnya saja adalah anak dari pelaku penganiayaan yang beritanya pernah heboh beberapa bulan yang lalu, mengapa malah sok-sokan mengajak kita menjaga bumi. Terlebih, si penganalisis materi yang kedua, ia pun anak dari pelaku penggelapan dana pemerintahan. Pantaskah kalian masih mengajak kami untuk menjaga bumi? Sedangkan orang yang paling dekat dengan kalian saja adalah penghancur semesta kami. Lantas, bagaimana kita akan peduli dengan bumi?” Ucapan Felicya memang benar adanya. Rigel dan Lyra pun merasa dipermalukan di hari itu.
Lagi, di bagian terkecil yang
bahkan tidak terlihat spesial di mata alam semesta, manusia kembali berulah.
Bahkan akan terus berulah. Ia selalu merasa punya peluang untuk menjatuhkan
sesamanya sekalipun pada teman sejawatnya. Bumi, tidakkah kau ingin menyerah?
***
Komentar
Posting Komentar