[Cerita Mini : Lakara Kala Itu]

Malam tidak pernah mengeluh meski harus gelap. Deru langkah kaki yang bersahutan. Orang berlalu-lalang menuju tempat peraduan Kereta yang kutumpangi masih butuh lima belas menit lagi untuk sampai. Kutengok kanan-kiri, memang betul belum kelihatan. Kulirik ponsel yang menunjukkan angka 11 di pojok kiri atas.

"Kereta Lakara masih lima belas menit lagi, tenanglah. Pasti tepat waktu," ucap lelaki di sebelahku.

"Bagaimana kalau terlambat lagi seperti kala itu?"

"Kala itu, ya, kala itu. Beda sama sekarang."

"Iya …" jawab gadis itu, malas. “Kamu tahu betul kalau kita punya pengalaman tidak menyenangkan dengan kereta Lakara. Jadwalnya jam berapa, datangnya jam berapa. Oke nggak apa, sekali dua kali, tapi kalo setiap kali seperti itu, haruskah tetap dimaklumi? Bayangkan saja, jika Lakara terlambat lebih dari satu jam, pasti kala itu kita tidak pernah bisa menemui bapak, mendengar suara bapak untuk yang terakhir kalinya, dan-"

"Astaga, Maren! Begitu saja digunjingkan," balas lelaki itu, kesal.

Aku mematung, mengingat kejadian kala itu. Tentang Lakara yang pernah membuatku kecewa. Entahlah, apakah aku waras jika menyalahkan Lakara yang terlambat datang membuatku tak bisa mendengar suara ibu untuk yang terakhir kalinya? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]