[Cerita Mini : Biru, Penghuni Terakhir]
Ruangan penuh warna putih ini
masih setia saja dengan suasananya. Padahal, aku sudah bosan sekali. Sungguh.
Tapi, wanita itu sedikit memberi jeda untuk sejenak mengusir rasa bosanku.
Senyum lebarnya selalu tampak di bibir tipisnya. Memberi sedikit donasi
semangat untukku.
Jaraknya mendekat setelah ia
melewati pintu masuk berwarna putih. Ah, putih lagi, aku bosan.
"Hei, bagaimana kondisimu?
Lebih baik dari kemarin?" Tanyanya sembari mengecek selang panjang yang ujungnya
terpasang apik di hidung mungilku. Tak lupa jua, dengan senyum manisnya.
Sungguh, kali ini sensasinya berbeda dari senyumnya di hari yang lalu.
Aku masih mengamati dengan
saksama, wajah tulusnya dan senyum bagusnya. Tanpa sadar, sudut bibirku ikut
tertarik melengkungkan senyum.
"Baiklah. Kurasa kondisimu
sudah lebih baik dari kemarin. Aku tahu itu. Beralih ke pertanyaan lain, apakah
kamu masih butuh kertas origami lagi? Aku akan keluar nanti. Siapa tahu kamu
mau titip lagi."
Aku menggelengkan kepala.
"Tidak lagi. Aku akan menghabiskan satu lembar terakhir itu."
Jawabku sembari selembar kertas origami di atas nakas, sebelah tempat tidurku.
Satu kertas origami terakhir
berwarna biru itu adalah kertas terakhir yang akan aku tulis sebuah
pengharapan. Entah darimana, aku mencetuskan diri untuk menuliskan harapan
lewat kertas origami. Meski wanita itu mengatakan aku sudah lebih baik, itu
memang betul. Aku lebih baik karena kehadirannya sebagai penyemangat hidup di
kala semua yang kusayang telah pergi tanpa pamit.
"Baiklah, aku pergi dulu,
ya. Sampai bertemu nanti sore." Ucapnya sembari mencium keningku.
Setelah bayangnya pergi, kuambil
sebuah pena, menulis harap terakhir dalam kertas biru, favoritku.
"Kepada kamu, sesama
penyuka warna biru. Aku suka kamu, aku nyaman karena kamu mau merawatku selama
sebulan penuh ini. Di saat napas hampir terhenti, kamu datang pada waktunya.
Memberi udara sedikit demi sedikit. Hari ini aku memang lebih baik, karena kamu
alasannya. Aku suka biru, sebagai warna favoritku. Karena dia cerah seperti
kamu. Aku lebih suka biru daripada ruangan bercat putih penuh dalam waktu
sebulan ini."
Komentar
Posting Komentar