[Cerita Pendek : Jingga Alubiru]

Setiap manusia hanya memiliki satu warna. Ia tidak bisa memiliki dua warna sekaligus. Jika kamu adalah ungu dalam pelangi, lantas kenapa kamu ingin menjadi merah agar disebut pertama kali?

***

Kuas-kuas patah itu hanya tergelatak di sudut ruangan. Tidak ada yang berniat untuk mengambilnya. Bahkan, dua orang yang kini sedang duduk bersisian di depan kanvas lukisan pun hanya diam mematung.

“Ck, Saka itu memang tidak becus! Bilangnya bisa, tapi hasilnya saja tidak ada,”ujar Kemala memecahkan keheningan. “Cuma sekadar mengingatkan saja kalau pameran itu akan dimulai dua hari lagi. Kalau lukisan itu tidak siap besok, siap-siap saja kamu hidup dalam penyesalan!“ hardiknya.

Saka masih diam saja, belum mau merespons. Tatapannya masih terpaku pada kanvas yang ada di hadapannya.

“Mau sampai kapan sih, Ka, cuma diam di depan kanvas? Kamu mikir enggak sih, gimana sedihnya Alubiru kalau ia tahu lukisannya itu udah rusak? Ah, sudahlah! Saka itu tidak akan bisa menyamai atau bahkan menyaingi Alubiru. Iya, bagaimana mau menyamai, melukis saja tidak jadi-jadi.” Kemala semakin kesal melihat kelakuan Saka dari lima hari yang lalu. Jika besok lukisan yang dibuat Saka untuk menggantikan lukisan Alubiru tidak selesai, Kemala berjanji tidak akan memaafkan kelakuan Saka yang membuatnya naik pitam.

Kalau Saka tidak memindahkan lukisan itu dari rumah pendopo Alubiru ke rumahnya, pasti lukisan itu baik-baik saja. Saka tidak akan berkelahi dengan orang gila jalanan hingga membuat lukisan itu patah di bagian sudut kanannya. Bayangkan saja, Alubiru yang selalu mengikuti pameran lukis tiap tahun dan selalu berhasil menyabet juaranya, lantas jika lukisan itu rusak, apakah akan mendapat juaranya?

“Sudahlah, aku bosan di sini terus. Aku keluar dulu cari angin daripada bengong lihat kanvas tidak berwarna.” Kemala pun beranjak dari duduknya dan melenggang begitu saja.

Kemudian, suara decitan pintu bambu terdengar jelas karena seseorang membukanya. Sedikit hawa sejuk menyelinap ke dalam ruangan membuat Saka terkenang tentang suatu percakapan.

***

“Mungkin warna biru lebih cocok untuk bagian luarnya, terkadang jingga tidak selalu indah dengan suasananya,” saran Alubiru sembari mewarnai gambarnya.

“Tapi, Al, gimana bisa sore hari itu langitnya biru?” kilah Saka yang sepertinya tidak terima dengan saran Alubiru.

“Aku bilang hanya sisi luar dari jingganya saja, Saka. Bukan seluruh langitnya menjadi biru. Kujamin, pemandangan senja saat terbenamnya matahari jadi lebih terasa nyata,” ucap Alubiru meyakinkan.

“Ck, kupikirkan nanti deh. Aku mau fokus mewarnai bagian awannya,” ujar Saka.

“Terlalu lama dipikirkan nanti kamu semakin bingung. Putuskan saja sekarang,” ledek Alubiru.

“Aku, kan, bukan kamu yang bisa pilih warna dengan mudah, Jingga, ” ujar Saka cepat. “Ah, maksudku” Saka tahu ia telah salah menyebut nama.

Alubiru tersenyum. “Tidak apa, panggil saja nama itu. Bukannya kamu lebih suka nama itu? Lagian, kamu udah lama, kan, enggak manggil aku pakai nama itu. Terkadang aku memang suka dipanggil Jingga tetapi sesaat kemudian aku juga benci setelah mendengarnya.”

“Maaf, aku tidak bermaksud.”

“Tidak apa, lanjutkan saja tugasmu.”

Saka pun kembali fokus mewarnai sembari sesekali melirik ke arah Alubiru. Saka belum pernah melihat Alubiru seserius itu dalam melukis. Biasanya ada seulas senyum terlihat saat ia mengerjakannya. Entah kenapa, rasanya Alubiru tidak sesemangat tahun lalu saat mengikuti pameran lukisan tahunan.

“Kamu baik-baik saja, kan, Al?” tanya Saka.

“Iya, aku baik-baik saja, kok. Kenapa memang?” jawab Alubiru.

“Kamu tidak sesemangat biasanya, Al. Tidak seperti tahun lalu, kamu banyak melakukan petualangan untuk mencari inspirasi sekalipun cuma melihat birunya langit, menikmati sepoinya angin, memuji indahnya jingga juga melepas kepergian burung blekok ke sarangnya atau sekadar duduk di tepian sawah. Bahkan tahun ini, kamu hanya berdiam diri di sisi pendopo,” ucap Saka mengutarakan keingintahuannya.

“Aku tidak apa-apa, Saka. Sesekali untuk tidak melakukan hal yang sama bukan sebuah kesalahan, kan?” jawab Alubiru sembari terus melukis.

“Ya, tidak salah, sih. Maksudku, kenapa tidak seperti biasanya?” tanya Saka lagi.

“Sepertinya kamu lupa soal pembicaran kita waktu itu,“ Alubiru menghentikan aktivitas melukisnya dan duduk di sisi Saka.

“Soal apa?”

“Soal pelangi yang kita lihat di pematang sawah. Setelah hujan reda dan jingga datang menyapa, di saat burung-burung blekok dikejar oleh petani karena merusak sawah.“

Alubiru menghela napas sebelum melanjutkan.

***

“Aku pernah bilang, setiap manusia hanya memiliki satu warna. Ia tidak bisa memiliki dua warna sekaligus. Jika kamu adalah ungu dalam pelangi, lantas kenapa kamu ingin menjadi merah agar disebut pertama kali? Padahal, setiap warna punya perannya masing-masing. Punya penggemarnya sendiri dan punya pembencinya sendiri,” lanjut Alubiru menjelaskan.

“Hubungannya dengan kamu yang tidak mencari inspirasi kali ini apa?” tanya Saka semakin tidak mengerti.

“Kurasa aku bukan penyuka hal-hal yang biasanya aku lakukan. Jati diriku adalah merah yang berpura-pura menjadi ungu,” jawab Alubiru.

“Maksudmu?”

“Aku selalu hidup dalam bayang-bayang warna ungu karena menderita buta warna parsial protanopia. Tidak setiap warna yang kulihat akan sama indahnya dengan warna yang kamu lihat,” jeda Alubiru sembari membetulkan posisi duduknya.

“Warna biru yang katamu ada di langit, tidak bisa kupastikan dengan benar, apakah ia benar berwarna biru ataukah berwarna ungu. Warna jingga yang katamu ada di sekitar matahari terbenam, tidak bisa kupastikan apakah jingga yang kulihat memang sama dengan jingga yang kamu lihat. Aku tidak seperti lukisan yang kuciptakan. Mungkin terlihat istimewa bagi yang lain, namun terlihat aneh bagi diriku sendiri,“ tambah Alubiru sembari mengingat bagaimana ia merasa hancur saat didiagnosa menderita buta warna parsial protanopia untuk pertama kalinya.

“Tidak mungkin, Al, lukisanmu tetap baik-baik saja sejak dahulu. Ia tidak aneh dengan warnanya. Langit berwarna biru, daun berwarna hijau, matahari terbenam berwarna jingga, bunga mawar berwarna merah, sekalipun anggrek juga berwarna ungu. Semua yang kamu lukis tidak ada kurangnya,” jelas Saka seolah tidak percaya dengan penjelasan Alubiru.

“Semua lukisan itu memang indah di matamu. Namun, tidak di mataku. Berkat Kemala aku bisa mewarnai itu semua dengan benar. Langit yang berwarna biru adalah langit yang berwarna ungu di mataku. Begitu juga dengan daun yang berwarna hijau adalah daun yang berwarna kuning di mataku. Lukisan indah yang kuwarnai tanpa bantuan Kemala adalah lukisan yang kuinginkan. Hanya saja, dunia lebih menerima lukisanku jika mengikuti aturan warna dari Kemala. Bukankah itu sama saja dengan hidup dalam bayang-bayang warna?”

“Jadi … maksudmu? Kamu menyem—“ ucapan Saka menggantung, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sosok Alubiru, pelukis yang memenangkan lomba melukis tahunan adalah penderita buta warna.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, Ka. Dulu aku sulit menerima fakta itu, aku ingin enyah saja dari dunia yang bagiku sama sekali tidak adil,“ aku Alubiru.

“Tapi, kenapa Kemala tidak pernah bercerita tentang kondisimu?”

“Aku yang meminta Kemala untuk merahasiakannya. Itulah kenapa setiap kali diundang ke acara melukis tahunan, aku selalu meminta untuk didampingi Kemala. Ia melengkapiku dan ia juga yang menerimaku apa adanya. Ia mampu mewujudkan impianku jadi pelukis terkenal sekalipun warna di kedua mata kita adalah berbeda.”

“Kalian benar-benar tidak tahu persahabatan! Jika aku tahu kondisimu seperti itu, setidaknya aku bisa menolak beberapa undangan yang datang waktu itu.  Kamu juga tidak akan dipermalukan karena kejadian yang memalukan itu. Aku akan tahu yang sebenarnya dan aku ...,”

“Tidak apa, Saka. Itu semua bukan salahmu. Jika kejadian di mana seseorang tidak mengujiku untuk menebak warna dan ternyata aku salah semua dalam menebaknya, mungkin aku tidak akan sadar hari ini. Aku tidak akan sadar bahwa aku memang berbeda. Pameran lukisan tahun ini adalah tahun terakhir aku mengikutinya. Aku akan memakai warna yang kuinginkan tanpa sentuhan warna dari Kemala. Aku ingin merah dalam diriku bisa keluar dari bayang warna ungu.“

***

Berita #RonaBercerita Hari Ini : DUNIA BEDA RONA KARYA JINGGA ALUBIRU BERHASIL MENYABET JUARA PAMERAN LUKIS “COLOURFUL OF LIFE” TAHUN 2020.

Lukisan terakhir Jingga Alubiru hadir dalam pameran lukis Colourful of Life dan berhasil menyabet juara bertahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebuah lukisan legenda dengan kanvas yang patah di sudut kanan memberikan sentuhan artistik pada lukisannya. Seolah hal tersebut tidak disengaja, namun menimbulkan kesan estetika yang memanjakan netra.

Tak hanya itu saja, elemen warna yang berpadu pada lukisan abstrak bernama Dunia Beda Rona juga menampilkan warna ungu yang diberi sentuhan tipis warna biru, kuning kejinggaan, merah yang pekat dicampur hitam seolah berbicara tentang kehidupan.

“Alubiru memang ingin menampilkan lukisan warna dari sisi lainnya. Kehidupan Alubiru bisa terlihat di dalam lukisannya. Ia pernah menjadi merah yang terkungkung dalam takut yang pekat, pernah menjadi biru dengan sedikit kesejukan hati, pernah menjadi warna kuning yang membuat tawa riang orang terdekatnya.  Alubiru akan selalu hidup dalam hati penikmat seni abstrak, di mana gambar dan warnanya sempurna di satu sisi sekalipun bisa dipandang tidak sempurna di sisi lainnya,” tutur Saka Wira Alingga, sahabat sekaligus penggemar Alubiru.

“Ck, sudah-sudah hentikan! Aku tahu kamu sedang bahagia karena jawabanmu masuk koran hari ini. Cepatlah, aku harus menjenguk Alubiru hari ini. Awas saja kalau kamu lupa!” koar Kemala sembari mempersiapkan bunga melati dan mawar untuk pusara Alubiru.

“Aku tidak akan lupa. Sungguh, masa aku lupa dengan hukuman yang kamu berikan. Bukankah ini adalah permintaan maafku yang keseratus kali pada Alubiru? Untungnya, takdir menempatkanku pada nasib yang baik,” ucap Saka menegaskan.

“Itu bukan karena nasibmu, tetapi memang lukisan Alubiru tidak ada yang menandinginya. Coba saja kalau kamu pasang lukisanmu untuk menggantikan lukisan Alubiru waktu itu, sudah pasti kalah dan memalu-malukan. Kalau sudah begitu, kamu akan mendapat hukuman seratus kali melukis dengan pola dan warna yang harus sama.”

“Ah, siapa yang bakal memberiku hukuman seperti itu? Berani-beraninya dia!”

“Ya, jelas, Alubiru dong! Ia akan datang dalam mimpimu dan terus mengingatkanmu untuk menyelesaikan hukumanmu!”

“Ah, sudah-sudah. Ayo kita ketemu Alubiru!”

Dua sahabat itupun saling berjalan berdampingan mengunjungi sahabat lamanya. Memastikan pusaranya tetap bersih dan juga cantik dengan hiasan bunga mawar dan melati kesukaannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]