[Cerita Mini : Belajar dari Senja]
Semburat jingga masih terlukis
tipis di kanvas langit. Embusan angin yang perlahan-lahan menyentuh kulit
seakan ingin terus bercanda. Memang tidak kencang, tapi berhasil membawa hawa
dingin ke dalam tubuh.
Kudekapkan kedua tangan sambil
sesekali menggosokkan telapak tangan, berharap akan memberi kehangatan sedikit.
Kukira, jalan sore di pantai tidak perlu memakai jaket, tapi nyatanya aku
teledor.
"Makanya kalo suruh pake
jaket, tuh pake. Jangan kebanyakan ngeles." Hardik seorang lelaki dari
belakang. Dia mengomel sembari menyampirkan jaket ke punggungku.
"Hehe, iya, maaf aku
bandel."
"Nope. Nggak masalah selama itu nggak bikin kamu sakit," ujarnya.
"Tapi aneh aja, bukannya bilang terima kasih malahan minta maaf."
"Hehe, iyaiya, thank you Dante."
Dante merangkulku dan berjalan
di sampingku. Kami berjalan ke arah jingga yang semakin pupus digantikan gelap.
"Apa yang bisa kita
pelajari dari senja?"
"Tentu saja, sebuah
pengharapan yang selalu ada. Meski senja hanya sebentar, dia tetap hadir lagi
meski gelap pernah menggantikannya. Seperti harapan yang terkadang hadir dan
tidak, pasti ada banyak pilihan untuk bertahan. Antara tetap berharap atau
pasrah begitu saja. Karena pasti habis harap yang pupus, terbitlah harap yang
baru. Begitu, bukan?"
"Ya, harusnya memang
begitu. Harapan tidak terwujud, rajut lagi dari awal."
"Tapi, kenapa nanya
begitu?"
"Hanya untuk memastikan
kalo kamu nggak lupa sama apa yang kamu ucapin ke aku pas aku lagi kehilangan
harapan. Semua orang pernah pasti punya harapan yang tidak direstui semesta
untuk tergapai. Nggak apa-apa, hari ini kamu kehilangan kesempatan buat daftar
di perusahaan itu, tapi ingat, orang yang berharap akan punya jalan keluarnya.
Oke?"
Aku pun tersenyum. Dante memang
fast charger yang handal. Ya, dia memang benar. Aku tidak boleh lupa sama apa
yang pernah kukatakan pada orang lain.
Komentar
Posting Komentar