[Cerita Pendek : Bagaimana Jika Aku Tidak Bisa Melupakanmu?]

 “Bukan lagi tentang seberapa lama kisah ini terurai, namun seberapa banyak

kenangan yang telah membekas di ingatan.

Aku kehilanganmu, tidak apa.”

***

"Uhuk ... uhuk ... El, barang-barang yang di kamar atas udah diberesin belum?" ujar wanita paruh baya yang sesekali terbatuk karena menyapu debu di salah satu foto berbingkai.

El menoleh. "Belum, Mom, foto dalam kardus ini masih belum semua kubersihkan," ucapnya sembari menunjuk bongkahan foto berbingkai dalam kardus.

Serena menatap kardus itu, "Ah, ini tinggal dikit, kok. Nanti Mom bersihkan aja sisanya. Kamu beresin yang di kamar atas, ya, biar cepet selesai, gimana?"

"Ehm ..." El berpikir sejenak. "Rolling aja ya, Mom. Atau kalau engga kita selesaiin bareng aja yang di lantai bawah baru nanti lanjut yang di lantai atas," tawarnya.

"Tapi waktunya udah makin sore loh, El. Bagi tugas aja ya?" kilah Serena lagi.

Sepertinya El sudah tidak bisa menawar lagi. Waktunya sudah semakin sore dan rumah ini harus dikosongkan malam ini.

"Iya udah, deh. El bersihin yang di lantai atas. Tapi kalo Mom udah selesai nyusul ya," pinta El.

Serena mengangguk dan tersenyum. Hatinya terenyuh, ia tahu betul apa yang dikhawatirkan oleh El.

***

El memandang anak tangga itu cukup lama. Hanya sekadar bertanya dalam benak, apakah waktu enam bulan masih belum cukup memberinya keberanian? Apakah ia masih belum siap untuk kembali menyambangi kenangan kala itu?

Ayolah, El, hanya untuk saat ini saja. Setelah ini tugasmu adalah kembali merelakan dan meneruskan usahamu untuk kembali baik-baik saja, serunya dalam benak, berusaha meyakinkan.

Pijak demi pijak kakinya menapaki anak tangga, El mengatur napasnya pelan dan berusaha untuk rileks. Terakhir kali ia singgah di kamar itu, saat Larendra duduk manis di ranjang dan tersenyum. Meski sesekali tertawa dengan lebar, namun akhirnya senyap kemudian.

Tangan El sudah siap untuk memutar knop pintu. Tinggal satu putaran lagi, pintu itu akan terbuka. El kembali mengatur napas dan membukanya perlahan.

Uhuk … Uhuk …

“Kamu aman, kan, El?!” seru Serena dari bawah.

“Uhuk … uhuk … aman, Mom. Sejauh ini, debu lagi senang-senangnya bermain dengan bulu hidungku,” seru El dengan canda.

Pandangan El teralih pada lemari kayu di pojok kamar. Terlihat beberapa sarang laba-laba menghiasinya. Padahal baru enam bulan, apalagi kalau sampai satu tahun, ya.

Pelan-pelan El mulai mengambil satu per satu bingkai foto yang ada di kardus sebelah lemari. Foto pertama yang berhasil ia raih adalah foto di mana dua orang dara berkuncir dua sedang bermain di taman. Keriangan terlihat jelas menghiasi di sana. Selengkung senyum terukir di bibir El karena melihat kakak perempuannya pernah tersenyum dengan begitu mudah.

Merambah ke bingkai foto berikutnya, seorang lelaki sedang duduk menghadap kanvas. Warna-warni cat sedang ia mainkan dengan penuh penghayatan. El ingat sekali, dulu ayah memang suka melukis.

Bingkai foto berikutnya, berwarna keemasan. El bisa menduga, bingkai foto itu adalah milik seseorang yang kini telah pergi meninggalkannya. El ragu untuk mengambil foto itu, tiba-tiba ….

“El … “ seseorang memanggilnya. El pun tersentak.

“Ah, Mom ….” El menoleh ke belakang. Serena membuatnya kaget.

“Masih belum mulai bersih-bersihnya?”

El menggeleng. “Ehm ….”

“El, ini udah enam bulan, dan kamu emang nggak harus mampu untuk melupakan Larendra secepat ini. Nikmati prosesnya, diterima,” ujar Serena sembari membersihkan bingkai-bingkai foto berdebu.

El pun masih terdiam. Ia masih gamang untuk mengambil bingkai foto itu.

“Jangan ragu, ambil saja jika kamu mau. Kadang saat terakhir seseorang itu tidak pernah ada yang tahu. Termasuk kesempatan ini.”

“Mom … Larendra pun tidak pernah meminta untuk pergi waktu itu. Menyalahkan siapa juga tidak tahu,” El mencoba menjelaskan. Bingkai foto itu kini sudah ada dalam genggamannya. Bersiap untuk kembali mengingat sosok yang dikasihinya, enam bulan yang lalu.

“La … Larendra pun tak mau ini berakhir, aku tahu, Mom. El tahu persis soal itu, El tahu kalo Larendra masih ingin tinggal di sisi El.”

Suara El yang semakin serak, membuat Serena khawatir. Takut jika putri semata wayangnya kembali memberontak seperti kedatangan mereka sebelumnya. Serena pun dengan sigap memeluk El.

Air mata El perlahan menetes. “Mom, Larendra hanya dijembatani kematian. Dia hanya diseberangi oleh dimensi yang lain. Larendra masih ada di sini, Mom. Dia masih ada di sini,” El pun tak kuasa menahan tangisnya lagi. Serena pun semakin erat memeluknya.

***

Ranjang putih itu masih dihuni oleh seseorang. Gadis di sebelah ranjang pun masih saja memegang erat tangan orang itu. Berharap sedikit ada gerakan, menandakan kehidupan.

“Ren, masih ingat janji kamu, kan?” ucap El sembari mengelus tangan Larendra. “Kamu ingat kan, janji kita untuk bersama sampai akhir? Tapi, ini bukan akhir yang aku inginkan. Mom bilang semenjak hati kamu dipindah ke dalam tubuhku, dan hati aku yang kena virus itu dipindah ke tubuhmu, kamu jadi tidak seperti Larendra yang aku kenal. Kamu jadi lemah, sukanya berbaring, manja, persis seperti Elora Wikana.”

“Sungguh, aku sama sekali nggak suka Larendra Ibrahim yang seperti ini. Dan, ya, kisah kita masih bisa dilanjut, kan? Kamu nggak mau berpamitan hari ini, kan? Kalo hari ini, hati aku menyakiti kamu, sungguh, demi seluruh kehidupanku hari ini atau di fase selanjutnya, aku meminta maaf dengan banyaknya. Ren, jangan pergi hari ini, ya.”

Elora pun menutup mata, hanya untuk merasa tenang sesaat. Meski yang sebenarnya adalah Larendra telah pergi, membawa hati yang rusak milik Elora.

 ***

Sabtu sore ini, rumah telah kosong. El dan Mom kembali ke rumah yang baru. Rumah lama akan dijual setelah sekian kali penawaran.

“El, Mom ada sesuatu buatt kamu, “ ucap Serena.

“Iya, Mom, apa tuh?”

Serena menyodorkan sebuah amplop pada El. “Nih, Mom, temukan amplop di balik bingkai foto milik Elora dan Larendra.”

El tersenyum getir sembari menerima amplop itu. Perlahan ia membukanya dan menemukan sebuah surat. Dengan helaan napas tertahan, semoga isinya tidak menyesakkan.

Dear : Elora Wikana

Ini bukan lagi tentang seberapa lama kisah ini terurai, namun seberapa banyak kenangan yang telah membekas di ingatan. Aku kehilanganmu, tidak apa. Jaga hati yang sudah aku titipkan padamu, ya. Biarlah yang terlupa, kan berlalu. Dan yang akan datang marilah disambut dengan bahagia.

Aku tetap jadi milikmu, sekarang, atau di kehidupan selanjutnya.

 

Beloved,

Larendra Ibrahim

 

El pun menutup surat itu dengan senyuman. Semoga ini akan jadi awal yang baik.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]