[Cerita Pendek : Henti dan Lepaskan]

 Karena wanita itu makhluk perasa; apabila diberi janji dan asa,

maka berharapnya pasti luar biasa." 

***

"Sudah lama di sini?" tanyanya tanpa aba padahal suaranya kalah menggema dibanding hujan yang belum reda.

Aku masih diam, tidak menjawabnya. Sungguh, rasanya aku tidak ingin lagi bercengkrama dengannya. Sudah kuusahakan untuk tidak bertemu dengannya, namun semesta justru senang bercanda.

"Win, sudah lama di sini?" tanyanya lagi.

Harapku masih sama. Tidak peduli dengan pertanyaannya.

"Win, sudah lama di sini?" tanyanya bersamaan dengan menepuk pundakmu. Sontak karena kaget, aku pun menoleh ke arahnya. Pertemuan kontak mata pun tak dapat kuelakkan.

"Engh ... i-iya, udah lama, kok," jawabku sedikit gugup. Tanganku pun lemas. Tampaknya, dampak dari tepukan dan kontak mata itu berhasil membuatku melayang.

Kulihat wajahnya dari samping. Rupanya tak berubah sedikitpun setelah empat tahun tidak bertemu rupa, bertukar sapa, atau bahkan berkontak mata. Apakah perasaannya padaku juga masih sama? Ah, sial. Pertanyaan macam apa itu, rutukku.

"Kamu kedinginan, ya, Win?"

Hei, kenapa kepekaannya terlalu tajam? Aku hanya mengusap lengan atasku sambil bersedekap, langsung saja dikira kedinginan.

"Pakai jaketku, ya," katanya sembari menyampirkan jaketnya padaku.

Sungguh, aku gugup.

***

"Empat tahun udah berlalu dengan cepat, ya. Pasti ada banyak hal yang berubah. Apalagi ada banyak kabar yang tidak saling kita kabarkan. Gimana dengan perasaanmu, Win? Apakah ia masih sama atau sudah berbeda sama sekali?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Aruna, sahabat sekaligus cowok yang aku suka. Sahabat sekaligus cowok yang pernah memberiku bunga hingga layu pun ia tahu kenapa. Aku mengarahkan pandangku padanya. Kutatap lebih lama agar nyaman bisa kurasa.

"Run, empat tahun adalah waktu yang lama. Bahkan sangat lama hingga tidak bisa kusebutkan dengan angka. Setelah hari di mana kamu menghilang tiba-tiba, aku berpikir persahabatan kita tidak punya arti sedikitpun bagimu. Setelah hari di mana aku mengaku berharap, kamu seolah menuduhku untuk kepergianmu. Setelah hari itu, aku berusaha mengenyahkan harapan itu. Hari-hariku sangat tidak menyenangkan. Bergulat dengan berbagai perasaan dan tanya. Bertengkar dengan berbagai apa dan mengapa. Bahkan, aku rela jika harus kehilangan rasaku daripada kehilangan sahabatku. Namun, kamu menganggap lain, Run. Kamu berbeda setelahnya," jelasku. Sudah kutahan agar tidak meluapkan perasaan itu, hanya saja, siapa yang tahu kapan hati akan menyerah.

Hujan masih turun dengan derasnya seolah ingin menyaingi percakapan antara aku dengan Aruna. Tepat setelah aku berhenti bicara, hening pun mulai berperan. Hanya pikir di antara aku dan Aruna saja yang sedang berkecamuk.

"Semuanya datang tiba-tiba, Win. Kamu yang tiba-tiba menyatakan rasa dan membuatku terkejut. Kukira kita akan menjadi satu-satunya persahabatan yang tidak akan menumbuhkan rasa di antara satu dan yang lainnya. Kita akan menjadi sahabat selamanya tanpa ada rasa yang lebih. Aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu itu tumbuh dan bagaimana kamu berani untuk mengatakannya. Aku tidak menerima tapi aku juga tidak bisa menyangkal begitu saja. Aku butuh menyendiri. Kupikir, hanya dengan pergi aku bisa menyelesaikan keresahanku," ucap Aruna dengan penuh yakin. Aku memahaminya tetapi jangan tanyakan bagaimana aku bisa menumbuhkan bunga itu.

"Apakah karena itu kita tidak berhak lagi untuk temu? Apakah karena hal itu kamu hilang tanpa kabar sekalipun? Kamu tahu persis, sebuah masalah tidak akan selesai jika hanya dihindari, apalagi jika sampai dilarikan. Ke mana sosok Aruna Wikana yang dulu katanya benci jika masalahnya berlarut-larut? Ke mana seorang pecundang itu?!" Suaraku meninggi. Kekesalan yang kupendam pun keluar bersamaan.

Diam. Aruna diam lagi.

"Run, kenapa kamu diam, sih? Di sini, aku yang bersalah. Aku yang telah mengkhianati persahabatan kita. Aku yang menyesal karena pernah menumbuhkan rasa dan mengatakannya. Aku yang telah kehilangan sahabat yang telah bersamaku selama enam tahun. Aku yang telah berusaha menghilangkan rasa itu, tapi, tiba-tiba diremehkan oleh semesta dengan menghadirkan pertemuan kita kali ini. Aku, Run aku yang seolah-olah tidak merindukanmu dan mengharapkanmu datang, memelukku, dan meminta maaf atas kepergianmu. Bukan, kamu. Bukan kamu yang bersalah. Tolong, jangan diam dan tidak pedulikan. Aku di sini, kita selesaikan saat ini," jelasku dan berhasil membuatku terisak setelahnya.

Aruna hanya menatapku lekat. Tangannya terangkat bermaksud mengelus rambutku namun aku menepisnya.

"Tidak lagi, Run." Aku menggelengkan kepala. "Jangan berikan perhatian apa pun lagi padaku. Aku sudah telanjur salah paham akan perlakuanmu. Asal kamu ingat, perlakuan dan perhatianmu adalah sumber dari semua rasa itu. Rasa yang melampaui batas yang pernah kita buat. Andai dulu kamu tidak pergi begitu saja, aku tidak akan sesakit ini. Aku tidak akan menanggung beban rasa bersalah yang kelewatan. Aku akan mencoba memperbaiki persahabatan kita yang mungkin bisa saja putus begitu saja. Syukurlah jika semesta mempertemukan kita kali ini, hingga tidak lagi merepotkanku untuk mencari keberadaan dirimu."

"Apa yang kamu inginkan, Win?"

Aku menengok ke arahnya. Menatap kedua matanya yang sembab. Ah, dia menangis rupanya.

"Hanya satu, aku ingin bebas dari perasaan ini," jawabku.

"Yang lainnya?"

"Aku ingin memperbaiki persahabatan kita, tapi, sepertinya itu akan sulit dilakukan."

"Kenapa?"

"Aku masih menyukaimu, di antara banyaknya rasa yang aku suka, rasaku kepadamu adalah yang paling kusuka. Perlahan, aku ingin mengenyahkannya. Jadi, kupikir, kita benar-benar terpisah saja."

"Tidak bisakah kita kembali seperti semula?"

"Mungkin bisa, tapi kemungkinannya sangat kecil. Persahabatan laki-laki dan wanita tidak mungkin murni selamanya. Karena wanita itu makhluk perasa; apabila ia diberi janji dan asa, maka berharapnya pasti luar biasa. Aku tidak ingin mengulang untuk kedua kalinya. Satu saja susah memperbaikinya, apalagi, jika sampai terluka lagi."

Tidak ingin berlama-lama, pun hujannya sudah reda, emosiku sudah sedikit tercurahkan, aku pun pamit ke Aruna.

"Run, aku enggak tahu kapan kita ketemu lagi. Aku juga enggak tahu apakah kamu berharap kita bisa seperti dulu lagi atau tidak. Tapi, aku memutuskan untuk tidak dulu menemuimu. Entahlah, dengan semesta. Kuharap pertemuan berikutnya, kemungkinan kecil untuk kita bersahabat lagi bisa diwujudkan. Hanya saja, aku tidak berharap terlalu besar. Terima kasih untuk semuanya dan maaf atas semua perlakuanku. Maaf karena aku pernah menumbuhkan rasa," ucapku sembari menyeka air mata dan sedikit menyunggingkan senyum.

Aku pun bergegas pergi meninggalkan Aruna sendiri. Tanpa ingin tahu apa responsnya. Meninggalkan beberapa hal yang sebenarnya tidak ingin kutinggalkan, termasuk kenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]