[Cerita Mini : Bahkan Hanya Sekadar]

         "Apakah kamu masih menyimpan rasa untuknya?"  tanyaku, memberanikan diri.

Pandanganmu masih terpaku pada ombak di ujung sana. Tatapanmu lekat, penuh firasat. Helaan napasmu juga berat, tapi aku sedikit tahu, dirimu yang saat ini sudah lebih tangguh dari yang dulu.

“Ya … rasa itu masih ada …”

Aku menahan napas, tercekat.

“Rasa itu punya tempat tersendiri, dia tetap ada meski tidak terlihat oleh siapa. Setiap kehadirannya pun, aku begitu sangat merasakannya.”

Sempurna. Jika aku bisa berada di posisinya, aku merasa sangat beruntung. Tapi, aku tidak yakin. Nyatanya, gadis yang kukira seberuntung dia, belum sempat memilikimu saja sudah lebih dulu pergi karena panggilan-Nya. Apalagi aku.

“Haha … kenapa kamu jadi terdiam? Nggak lagi pengen jadi dirinya, kan?”

“Ish … nggaklah. Hanya angan haha …“

Berikutnya, tangan itu mendekapku. Merapatkan jarak. Hangat dan munafik sekali ¾jika aku tidak mengakuinya.

“Tidak ada yang tahu rahasia semesta, kamu pun juga pantas untuk diberikan cinta semurni itu. Percayalah, orang itu juga akan merasa beruntung karena memilikimu …”

Semoga kuharap itu adalah dirimu. Meski aku tahu, dirimu bagaikan bintang sabitah di ujung langit sana. Tetap di ujung langit, hanya bisa dipandang namun belum tentu bisa digapai.

Aku hanya ingin terus dalam dekapmu, menghangat, ditemani deburan ombak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]