[Cerita Pendek : Keyakinan Terakhir]

 

Tuhan tidak memberimu pilihan, mau lahir di keluarga yang berada atau cukup dengan ada. 

Tuhan juga tidak memberimu gambaran apakah kamu akan berhasil dengan dukungan keluargamu ataukah justru terpuruk karena tuntutan keluargamu.

Setiap pilihan punya resiko dan setiap mimpi punya kendala.

Berjuanglah sekali lagi, Tuhan ingin kamu bermimpi.

***

Alun-alun kota tidak pernah sepi dari warna-warni lampu. Tidak ada perayaan apa pun, seperti hariku. Tidak ada kabar keberhasilan, malah justru sebaliknya. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Niat hati ingin pulang lebih awal ke rumah dan beristirahat, namun riuh di kepala tak berhenti diam meski dipaksa.

Kuedarkan arah pandangku dan kulihat beberapa orang berkerumun di sudut lapangan. Entah dengan keluarga, saling memberi tawa dan memberi sambutan percakapan. Di sudut lainnya, beberapa anak-anak sibuk berlarian ke sana dan ke sini sekalipun dibarengi dengan tawa renyah yang ebebrapa tertangkap oleh pendengaranku. Di sdutu lainnya, deretan jalan dipenuhi gerobak yang ditemarami lampu dengan warna yang menyerupai warna jingga yang lebih redup. Terlihat raut wajah bahagia seorang laki-laki dan sambutan senyuman dari wanita yang di sebelahnya. Entahlah, mungkin mereka sedang membicarakan suatu hal yang membaenggakan.

“Hai, Re!”

Seseorang memanggilku. Aku yakin, dia adalah orang yang kutunggu.

Sorry, ya, tadi jalanan macet, jadinya aku putar balik, deh,” ucapnya yang kini sudah ada di sebelahku. Aku hanya meliriknya saja. Tidak berucap apa pun.

Kemudian, ia sibuk membuka satu kaleng minuman dingin dan menyodorkannya padaku.

“Nih, minum dulu.”

Aku menerimanya dan tanpa lama lagi, segera meneguknya.

“Hm, aku tahu kok apa yang sedang kamu rasain. Aku tahu kamu kecewa sama hasil lomba hari ini. Tapi, Rea yang kukenal enggak gampang nyerah. Rea yang kukenal adalah orang yang selalu bangkit dari kegagalan. Yakin,deh, Tuhan lagi bikin rencana yang indah buat kamu.”  Winda merangkulku, berusaha memberikan ketenangan yang memang sedang aku butuhkan.

Aku ingin menyangkal perkataannya. Aku ingin merasa lemah di depannya. Bagaimana bisa aku yang selalu bangkit dari kegagalan bisa tidak mendapat kesempat untuk menyecap keberhasilan? Dari sisi mana sehingga usahaku gagal untuk memenuhi kriteria dari keberhasilan? Apakah mimpiki yang salah karena pernah aku ciptakan ataukah takdir yang mendukungku? Ah, sepertinya memang takdir tidak memihakku.

“Nangis aja, Re, aku tahu ini menyesakkan. Memiliki impian menjadi seorang pelukis di tengah keluarga yang suka dengan jas ptuih dan obat-obatan tidaklah mudah untuk mencapainya. Terlebih, kamu sering dibandingny dan aku tahu betul kamu sangat tidd”

“Win, aku tahu kamu senang dengan keberhasilanmu. Keluargaku dan keluargamu jelas berbeda. Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi kamu. Seolah ketika kamu pulang, ada rumah yang menyambutmu. Karena mereka menerimamu, mereka mendukungmu. Sedangkan, aku? Aku mungkin pulang, tapi bukan rumah yang kutinggali. Seolah, rumah itu adalah rumah yang sellau terbakar. Air saja tidak bisa memadamkannya. Sekarang, semua impianku untuk menjadi pelukis sudah tidak bisa lagi kuperjuangkan. Aku sudah janji, jika lomba ini tidak bisa kumenangi, aku akan menuruti apa keinginan mereka. aku biarkan emreka untuk mengatur jalan hidupku.”

Akhirnya semua yang kutahan, bisa lolos begitu saja.

“Re, Tuhan enggak memberimu pilihan, mau lahir di keluarga yang berada atau cukup dengan ada. Tuhan juga enggak memberimu gambaran apakah kamu akan berhasil dengan dukungan keluargamu ataukah justru terpuruk karena tuntutan keluargamu. Setiap pilihan punya resiko dan setiap mimpi punya kendala. Berjuanglah sekali lagi, Tuhan ingin kamu bermimpi. Kumohon …,” pinta Winda. Sorot matanya tidak pernah riuh, cara menatapnya juga egitu teduh. Bagaimana bisa aku iri sekaligus juga sayang pada dia?

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak ingin berjuang sekali lagi. Rasanya begitu menyesakkan ketika terus dibandingkan di rumah. Semua karyaku di rumah juga tidak pernah diizinkan untuk dipajang. Bagaimana bisa aku akan berjuang lagi sedangkan motivasiku saja sudah hilang entah ke mana?

***

“Re, coba deh lihat bintang di atas?”

Aku pun mendongak ke atas.

“Mereka tinggi banget, yah, sampe-sampe kelihatan kayak enggak bisa kita gapai. Seolah apa pun perjuangan yang dilakukan buat menggapainya, tuh enggak akan ada yang berhasil. Kita menyerah karena sugesti kita sendiri. kita jadi merasa yang tadinya layak untuk dapatkan bintang itu, sekarang, malah merasa tidak layak mendapatkannya. Seperti kamu saat ini, Re, kamu merasa tidak layak untuk memperjuangkan mimpimu. Kamu dulu pernah berjanji bakal terus memperjuangkannya, tetapi sekarang malah berjanji yanglain lagi dengan mengorbankan janjimu yang lain.”

“Keadaan membuatku menyerah, Win. Harapan apalagi yang bisa aku munculkan?”

“Kamu masih bisa meyakinkan kedua orang tuamu lagi. Mereka pasti akan luluh, kok.”

“Tapi, mau sampai kapan, Win? Sampai kapan aku haru smeyakinkan mereka? mereka aja enggak pernah menganggap kalau mimpiku itu nyata …” suaraku tercekat begitu saja. Aku pun membiarkan bulir bening itu menetes lagi.

“Aku tahu itu pasti sulit. Tapi selaa kamu yakin dengan Tuhan dan kamu juga yakin sama diri sendiri, ornag tuamu pasti akan mengerti.”

“Win, bintang di atas sana juga akan redup pada waktunya. Mereka akan meledak tanpa diminta, kaena memang itu sudah waktunya. Bagaimana jika mimpiku memang waktunya meredup? Bagaimana jika akhirnya takdir mimpiku adalah meledak hari ini? Aku tidak bisa berbuat apa pun lagi, kan?” tanyaku pada Winda dengan pasrah.

Kemudian, teleponku bergetar. Tanpa kusengaja, aku melihat notifikasi email dari pihak penyelenggara lomba melukis hari ini. Buru-buru kubuka email-nya dan melupakan segala maluku yang sedih karena itu. Kumohon, ada kabar yang membahagiakan, ya, pintaku sembari buru-buru membuka email.

Winda yang di sampingku juga ikut penasaran.


Dari       : fincolourcompetition@gmail.com

Kepada  : rearenitasa@gmail.com

Halo, Kak Rea.

Selamat malam.

Maaf mengganggu waktunya. Kami hanya ingin mengabarkan terkait hasil lomba hari ini. kami ucapkan SELAMAT! karena lukisa Kak Rea mendapatkan Juara Favorit Para Peserta. Kejuaraan tersebut memang kami umumkan paling akhir sebagai puncak dari event kami.

Untuk itu, harap membalas email ini atas kesediaannya mengikutsertakan lukisan Kak Rea untuk dipajang di Museum Lukisan Fin Colour Tahun 2021.

Terima kasih.


Seolah tak percaya dengan kabar itu, aku pun menangis haru. Winda benar, Tuhan memang punya rencana yang lebih baik untukku. Saat aku kehilangan harapan, Tuhan mendatangkan Winda untuk menyisihkan sedikit keyakinan untukku.

“Win, aku mau berjuang lagi,” ucapku sembari memeluk Winda.

Malam ini, aku belajar satu hal. Tuhan memang tidak pernah pilih kasih. Ia selalu membantu makhluk-Nya yang berusaha. Semustahilnya mimpi jika keyakinan terakhirnya pada Tuhan, tunggulah waktunya, Ia akan membuktikannya. Dengan ini, aku akan mencoba meyakinkan orang tuaku lagi. Aku ingin berjuang lagi untuk mimpiku.

***

Minggu pagi ini, aku bersama Papa, Mama, dan keluarga Winda mengunjungi Museum Lukisan Fin Colour untuk peresmian hasil lukisan peserta lomba. Tidak mudah memang meyakinkan Mama dan Papa untuk datang, namun seperti yang Winda bilang, aku adalah Rea yang tidak gampang menyerah. Aku adalah Rea Renitasa yang selalu berjuang untuk mimpinya.

Ma, Pa, Win, aku berjanji aku enggak akan menyia-nyiakan pengorbanan yang kalian lakukan. Aku akan tetap bermimpi daan menjadi pelukis terkenal, tekadku dalam hati.

“Hei, Re! Buruan ih masuk ke ruangan, jangan di pintu masuk mulu!” teriak Winda. Aku pun mengejar mereka dengan perasaan bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerita Pendek : Karena Jarak yang Tidak Bersuara]

[Cerita Mini : Dua Sisi Orang Sakit]

[Cerita Pendek : Tujuh Surat dari Elma]