[Cerita Mini : Kalimat Waktu Itu]
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Wira hanya diam saja. Aku tahu sebabnya, pasti karena aku lembur lagi. Jam tidurku kurang. Pola makanku tidak teratur. Wajahku lesu. Begitu, katanya Wira.
Aku pun merapatkan
pelukanku padanya. Selain untuk mengurangi kekesalannya padaku, juga aku merasa
kedinginan karena hujan baru saja reda.
“Nin, kata-kata kamu
itu udah pernah kamu ucapin. Persis waktu itu dan ujungnya tetap lembur, kan?
Ini bukan masalah lembur atau berkurangnya waktu kita berdua. Aku cuma pengen
kamu tahu, jangan terlalu maksain diri buat ngerjain sesuatu tanpa jeda. Aku
tahu kerjaanmu banyak. Aku tahu kalo karirmu adalah harapanmu yang berarti.
Tapi, apakah dengan bekerja lebih lama dari jam kerja adalah bentuk kerja
keras? Apakah itu adalah bentuk memenuhi tanggung jawab?”
Aku hanya diam
mendengarnya. Tersirat kekhawatiran saat Wira mengucapkannya.
“Aku nggak mau kamu
sakit, Nin. Aku tahu kamu punya banyak beban karena tekanan pekerjaan. Besok,
mulai atur jadwalmu, ya. Ini bukan untuk siapa-siapa tapi ini buat diri kamu
sendiri. Inget ya, kamu hidup itu bukan hanya bekerja tapi juga untuk bahagia.”
Komentar
Posting Komentar