[Cerita Pendek : Kata Bapak]
Jangankan semesta, takdir saja tidak bertanya
apakah kamu akan bahagia esok hari atau tidak?
***
Malam itu, aku menghabiskan waktu lembur dengan Elyas dan Wirata, teman satu timku bulan ini. Sebagai perempuan satu-satunya dalam tim dan sering lembur hingga malam, baik Elyas ataupun Wirata sebenarnya sudah cukup baik karena memintaku untuk pulang lebih awal. Hanya saja, sebagai ketua tim aku tidak bisa membiarkan anak buahku menyelesaikan tugasnya sendiri. Bagaimanapun juga, lembur kali ini disebabkan oleh kekeliruanku dalam mengolah biaya anggaran.
Pukul sembilan malam di hari Jum’at, aku duduk di dekat jendela kantor yang menghadap ke arah jalanan pusat kota yang ramai sembari menyeruput kopi susu favoritku.
“Kay, kerjaan hari ini udah beres. Mending kamu pulang ya, udah berapa hari coba kamu lembur terus. Besok kita bantu kok buat nyelesaiin tugas ini,” tukas Wirata yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelahku.
“Iya, enggak ada yang bilang kan kalau proyek ini adalah kerjaaku sendiri? Malahan, tanpa kalian, aku enggak bisa melakukan revisi untuk proyek ini,” jawabku menenangkan mereka.
“Iya, Kay. Kita tahu kok gimana kinerja kamu sama proyek ini. Tapi, kesehatan tetap penting loh. Jangan sampai kamu kenapa-kenapa,” kata Elyas menimpali.
Aku pun tersenyum sembari menatap mereka. “Aku nggak apa, kok. Kalian pulang aja dulu, ya, aku mau cek beberapa berkas dulu. Habis itu aku baru pulang. Terima kasih untuk kerja samanya hari ini. Semangat buat besok, ya!” ucapku dengan semangat sembari menjunjungkan kepalan tangan ke udara. Padahal dalam hati, aku merasa getir sekali.
***
Setelah Elyas dan Wirata pulang, aku merenung di tempat dudukku. Merenungkan kejutan yang datang berturut-turut dalam tiga hari. Ah, awal minggu di bulan Agustus ini sudah terasa begitu melelahkan. Ataukah kelelahan yang aku rasakan ini telah mencapai puncaknya?
Hari pertama di bulan Agustus, aku gagal mencapai target pekerjaanku. Padahal, sudah kukerahkan kemampuanku. Hanya saja, dalam hidup pasti akan mengenal sebuah pernyataan bahwa “terkadang rencana itu tidak selalu sesuai dengan realita.”
Beberapa tugasku yang lain terbengkalai hanya untuk satu tugas yang kuprioritaskan. Sialnya, malah memancingku masuk ke jurang kesalahan. Alhasil, gajiku bulan ini pasti akan dipotong, meskipun perbaikan sedang aku lakukan.
Hari kedua di bulan Agustus, kukira cukup di hari pertama saja aku mendapatkan hal buruk. Tidak berhenti di situ, aku mendapat berita mengejutkan. Teman sekantorku akan pindah minggu depan. Lantas, apa hubunganku dengan kepindahannya? Jelas sekali. Aku pasti dibayangi teror untuk mengembalikan uang yang sudah tiga bulan ini kupinjam darinya.
Jika keadaan tidak mendesak waktu Ibu harus ke rumah sakit dan dianjurkan menginap, aku tidak akan meminjam uang untuk membayar biaya rumah sakit. Hanya saja, takdir membawaku pada keinginan untuk meminjam uang dengannya. Sebenarnya, dia tidak menagihku dengan cepat. Hanya saja, sebagai manusia yang sudah bersahabat baik dengan kebutuhan mendesak pasti paham dengan keadaannya. Sungguh, rasanya dunia telah berkonspirasi dengan keadaan hingga membuatku terpuruk seperti ini.
Hari ketiga di bulan Agustus, kuharap keadaan psikisku sedikit lebih baik dari hari kemarin. Beberapa pekerjaan kantor tidak terlalu bermasalah dan sudah bisa aku atasi. Keadaan Ibu juga baik-baik saja bersusulan dengan kabar baik yang cukup melonggarkan suasana hatiku. Adikku berhasil mendapatkan beasiswa dari kampus impiannya.
Senang rasanya bisa mendengar kabar itu. Namun, aku juga harus menyiapkan ongkos secepatnya agar adikku bisa bertandang ke indekos akhir bulan ini. Bagaimanapun juga, aku adalah anak tertua yang menanggung biaya keluargaku. Menggantikan Bapak yang sudah pergi dua tahun yang lalu.
Tiga hari itu seolah menamparku bertubi-tubi. Semesta ataupun takdir tidak memberiku kesempatan untuk bernapas lega dan berpikir dengan leluasa. Ingin sekali kujatuhkan air mata, namun susah sekali melakukannya. Air mata itu seolah berhenti mengalir dan enggan untuk membasahi pipi. Segala teriak yang ada di ujung tenggorokan tidak bisa aku keluarkan. Semuanya hanya berakhir dalam kata diam tanpa ada suara yang bisa mewakilkannya.
***
“Kay, gimana hasilnya? Diterima enggak?” tanya Ibu antusias setelah aku duduk di dipan teras rumah dengan lesu. “Loh, kok mukanya ditekuk begitu?” tanya Ibu lagi.
Aku pun menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya.
Dari dalam rumah, kudengar Bapak dengan Reyhan sedang bercanda. Sepertinya seru sekali tetapi hal itu tidak mampu membuatku sedikit bersimpati.
Saat aku masih merenungi hari di mana tidak ada yang menerima berkas lamaranku hari itu, Bapak mendekat sembari membawakan segelas air putih.
“Nak, minum dulu, ya,” ucap Bapak sambil tersenyum dan menyodorkan gelas itu.
Aku meraih gelas itu dan mulai meneguknya.
Sedangkan, Bapak tetap di sebelahku dan memperbaiki posisi duduknya. “Nak, dalam hidup itu kamu pasti akan menemui sebuah kegagalan, mengalami rasa kecewa juga akan mengalami bahwa harapanmu tidak sesuai dengan kenyataan. Kamu pasti akan menyalahkan keadaan atau diri kamu sendiri.”
Aku mendengarkan Bapak dengan saksama.
“Jika hari ini kamu mengalami hari buruk, kita masih punya hari esok yang bisa saja memberimu kebahagiaan. Karena jangankan semesta, takdir saja tidak bertanya apakah kamu akan bahagia esok hari atau tidak? Hanya diri sendiri yang bisa menjamin apakah kamu akan bahagia dengan sesuatu yang kamu lakukan sekarang ataukah kamu akan menerima kegagalan dan mencoba bangkit kembali? Yakinlah pada dirimu karena kamulah yang memiliki dirimu seutuhnya,” kata Bapak lagi sembari mengelus rambutku. Sungguh, aku lemah jika beliau sudah melakukan hal itu padaku.
“Tapi, Pak, Kayana sudah berusaha semaksimal mungkin, sudah berusaha bangkit berkali-kali, tetapi mengapa kebahagiaan itu tidak segera datang pada Kay? Apakah Kay tidak pantas mendapat kebahagiaan itu?” tanyaku dengan suara serak akrena menahan air mata.
“Tidak, Nak. Bukan karena Kayana tidak pantas, hanya saja Tuhan ingin Kay lebih bersabar lagi. Tuhan meminta Kay untuk yakin bahwa hari esok juga bisa lebih baik dari hari ini. Jangan takut apa pun ketika Tuhan ada di pihakmu. Masalah seberat apa pun, jika keyakinanmu pada Tuhan lebih berat, Tuhan pasti akan memberimu sebuah kebahagiaan sekaligus kejutan,“ jelas Bapak lagi dengan penuh ketenangan dan membuatku merasa lebih baik.
***
Klotak
Aku terbangun setelah mendengar suara itu. Rupanya, aku ketiduran di kantor.
“Anu, Mbak Kay, maaf yo jadi ngagetin. Niatnya tadi mau bawa tong sampah buat dikeluarin eh malah jatuh,” ujar Pak Kamto, si penjaga malam.
Aku yang masih mengucek mata lantas mengangguk. “Iya, Pak, nggak apa,” ucapku kemudian.
“Mbak Kay pulang ya. Udah jam sepuluh tuh.”
“Iya, Pak. Makasih, ya, tadi udah dibangunin.”
Aku pun lekas membereskan meja kerja dan beranjak untuk pulang.
***
Akhir bulan Agustus ini, kabar baik terus menyambangi telingaku. Target pekerjaan bisa kucapai berkat bantuan dari Elyas dan Wirata. Soal utang pada temanku, dengan baik hati dia berpesan agar aku bisa mengangsurnya sebulan sekali. Tidak harus kontan seperti apa yang aku khawatirkan. Adikku juga ikut andil memberiku kabar kebahagiaan. Ternyata, pemilik indekos itu memberikan diskon sewa untuk satu bulan karena adikku telah membantunya mengurus kedainya. Lumayan meringankan keuanganku dan memberiku waktu lebih untuk mengumpulkan uang sewa bulan depan.
Andai Bapak tidak datang ke mimpiku, aku tidak tahu akan dikuatkan oleh siapa. Bapak memang tidak pernah meninggalkanku, saat ingin menyerah pun Bapak tetap hadir meski hanya sebentar lewat mimpi. Pak, makasih banyak karena sudah membimbing Kay. Sudah bantu mengingatkan bahwa esok juga punya peluang lebih baik dari hari kemarin, gumamku dalam hati.
Komentar
Posting Komentar