Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

[Puisi : Gerimis Berbilang]

Gerimis malam itu datang dengan sendu Rintik-merintik mengaburkan siluet bayangmu Berusaha tenang meski rindu semakin menghunjam Menghilang sesaat namun tak kuasa dilakukan   Hujan meninggalkan banyak genangan Membangkitkan kenangan Menghadirkan senyap keheningan Membuatku ingin menenggelamkan perasaan   Apa yang diperlukan? Menuliskan namamu dalam diary Hanya membuatku semakin merindu Tak lekas berhenti meski kuniatkan pergi dalam hati   Apakah baiknya aku pasrah? Gerimis berikutnya hanya memancing hujan yang semakin deras Tak mungkin memberiku sempat untuk jeda sebentar Menambah rindu hingga menumpuk berkelakar   Sudahlah, aku mengalah Kalah Diam di tempat Hingga malam melambat

[Cerita Pendek : Jingga Alubiru]

Setiap manusia hanya memiliki satu warna. Ia tidak bisa memiliki dua warna sekaligus. Jika kamu adalah ungu dalam pelangi, lantas kenapa kamu ingin menjadi merah agar disebut pertama kali? *** Kuas-kuas patah itu hanya tergelatak di sudut ruangan. Tidak ada yang berniat untuk mengambilnya. Bahkan, dua orang yang kini sedang duduk bersisian di depan kanvas lukisan pun hanya diam mematung. “Ck, Saka itu memang tidak becus! Bilangnya bisa, tapi hasilnya saja tidak ada,”ujar Kemala memecahkan keheningan. “Cuma sekadar mengingatkan saja kalau pameran itu akan dimulai dua hari lagi. Kalau lukisan itu tidak siap besok, siap-siap saja kamu hidup dalam penyesalan!“ hardiknya. Saka masih diam saja, belum mau merespons. Tatapannya masih terpaku pada kanvas yang ada di hadapannya. “Mau sampai kapan sih, Ka, cuma diam di depan kanvas? Kamu mikir enggak sih, gimana sedihnya Alubiru kalau ia tahu lukisannya itu udah rusak? Ah, sudahlah! Saka itu tidak akan bisa menyamai atau bahkan menyaing...

[Cerita Mini : Belajar dari Senja]

Semburat jingga masih terlukis tipis di kanvas langit. Embusan angin yang perlahan-lahan menyentuh kulit seakan ingin terus bercanda. Memang tidak kencang, tapi berhasil membawa hawa dingin ke dalam tubuh. ⁣ Kudekapkan kedua tangan sambil sesekali menggosokkan telapak tangan, berharap akan memberi kehangatan sedikit. Kukira, jalan sore di pantai tidak perlu memakai jaket, tapi nyatanya aku teledor. ⁣ "Makanya kalo suruh pake jaket, tuh pake. Jangan kebanyakan ngeles." Hardik seorang lelaki dari belakang. Dia mengomel sembari menyampirkan jaket ke punggungku. ⁣ "Hehe, iya, maaf aku bandel." ⁣ " Nope. Nggak masalah selama itu nggak bikin kamu sakit," ujarnya. "Tapi aneh aja, bukannya bilang terima kasih malahan minta maaf." ⁣ "Hehe, iyaiya, thank you Dante." Dante merangkulku dan berjalan di sampingku. Kami berjalan ke arah jingga yang semakin pupus digantikan gelap. ⁣ "Apa yang bisa kita pelajari dari senja?" ...

[Puisi : Sorak Sorai Sengaja]

Bersaksi pada tanaman Aku pantas melalui banyak perjalanan Aku bisa saja memperjuangkan Di bawah langit yang sama dengan tanaman Aku berjanji untuk membuktikan Buah hasil peluh yang jatuh berurutan   Mencetuskan undang-undang pembebasan Disaksikan awan yang beterbangan Di bawah langit yang sama dengan hiasan awan Aku berjanji akan terus menyuarakan Setiap kamu wajar untuk membuat pilihan Sesuai selera dan kemampuan   Sorak sorai angin yang melewati perlintasan Bertepuk denganku dan memberi persetujuan Aku dukung usahamu meski banyak ancaman yang demikian Di bawah langit yang sama dengan siang yang terang dan malam yang sedikit kegelapan Aku berjanji untuk membuat kenyataan