Kursi roda ini berhenti tepat di taman bunga. Semerbak wangi menelisik indra penciumanku, memberi sedikit kesejukan di sela-sela bau obat-obatan. Entah bagaimana caranya, cowok berambut gondrong itu merayu dokter Rhea agar mengizinkanku keluar dari ruangan. Kursi roda ini berhenti tepat di taman bunga. Semerbak wangi menelisik indra penciumanku, memberi sedikit kesejukan di sela-sela bau obat-obatan. "Udah, nggak perlu dipikirin. Izin kamu ini izin remsi, kok. Percayalah." Aku melengkungkan senyum, berharap memberinya jaminan bahwa aku baik-baik saja, tidak khawatir dengan izin resmi dari dokter Rhea. Sebuket bunga mawar dia letakkan di pangkuanku. Warnanya merah pekat, aku suka meski sedikit memberiku rasa cemas. Cowok bernama Randu itu, kini sudah ada di hadapanku. Menyejajarkan posisinya dengan berjongkok. "Bunganya harum," ucapku. "Ya pasti, kalo nggak harum berarti nggak pake parfum," kekeh Randu. "Haha .... " tawaku sumb...